Liputan6.com, Jakarta - Fenomena ustadz yang memasang tarif tertentu dalam pengajian atau dakwahnya semakin sering terdengar di masyarakat. Beberapa pihak mempertanyakan apakah tarif ustadz ini sesuai dengan ajaran Islam atau justru bertentangan dengan esensi dakwah.
Penceramah Muhammadiyah Ustadz Adi Hidayat (UAH) dalam ceramahnya menyoroti masalah ini dan memberikan pandangannya tentang ustadz yang meminta tarif sebelum berceramah.
Advertisement
Dalam tayangan video yang dukutip dari kanal YouTube @NgajiYuk720-d1w, UAH menegaskan bahwa ulama telah menetapkan pandangan tegas terhadap ustadz yang memasang tarif untuk berdakwah.
Advertisement
Menurut UAH, jika ada seseorang yang disebut sebagai ustadz tetapi meminta tarif di awal, maka ia sudah dicoret. Ulama pun menganggap ilmu yang disampaikannya terhukum oleh tarif yang ia tentukan.
UAH menjelaskan bahwa ketika seseorang datang ke pengajian dengan membayar tarif tertentu, maka manfaat ilmunya pun terbatas. Ilmu yang diterima hanya sebatas nominal yang dibayarkan, tanpa ada keberkahan.
"Habis pengajian, bisa ketawa, bisa tenang, tapi masalah tetap muncul dan tidak ada solusi," ujar UAH dalam ceramahnya.
Baca Juga
Â
Simak Video Pilihan Ini:
Lakukan Dakwah dengan Ikhlas
Ia menegaskan bahwa ilmu agama bukan sekadar hiburan sesaat yang bisa dibayar dengan uang, melainkan harus menjadi solusi bagi kehidupan manusia.
Dalam ceramahnya, UAH juga mengingatkan bahwa ini bukan pendapat pribadi, melainkan bersumber dari kitab-kitab para ulama terdahulu.
Para ulama mengajarkan bahwa seorang pendakwah harus kembali ke jalur yang benar, yaitu menjadi ahli kitab, bukan sekadar ahli proposal.
Maksud dari ahli kitab, menurut UAH, adalah orang yang benar-benar menyampaikan ilmu dari sumber yang sahih tanpa kepentingan duniawi.
Sementara itu, istilah ahli proposal merujuk pada mereka yang berdakwah hanya demi keuntungan materi dan menjadikan dakwah sebagai bisnis.
UAH menekankan bahwa dakwah seharusnya dilakukan dengan ikhlas dan tidak boleh dikaitkan dengan besaran tarif tertentu.
Meski demikian, UAH tidak menafikan bahwa seorang ustadz juga memiliki kebutuhan hidup, namun ia menekankan pentingnya keikhlasan dalam menyampaikan ilmu.
Beberapa ulama memberikan solusi agar dakwah tetap berjalan tanpa harus dikomersialkan, misalnya dengan adanya dukungan dari jamaah yang memang ingin berkontribusi tanpa paksaan.
Â
Advertisement
Ajakan Ustadz Adi Hidayat
Dalam sejarah Islam, para ulama terdahulu tetap mengajarkan ilmu tanpa menetapkan harga tertentu bagi yang ingin belajar.
Konon dalam beberapa kisah diceritakan, banyak ulama besar seperti Imam Syafi’i dan Imam Malik yang mengajarkan ilmu tanpa meminta imbalan, tetapi tetap mendapatkan rezeki dari berbagai sumber yang halal.
Ulama muda ini mengajak para pendakwah untuk meneladani sikap para ulama terdahulu yang tidak menjadikan ilmu agama sebagai ladang bisnis.
Dakwah yang dilakukan dengan keikhlasan, menurut UAH, akan lebih membawa manfaat bagi umat dan memberikan keberkahan bagi sang pendakwah sendiri.
Jika seorang pendakwah terlalu fokus pada tarif, maka ada risiko ilmunya menjadi tidak bermanfaat bagi umat karena telah terikat oleh nominal tertentu.
UAH juga mengingatkan jamaah agar lebih selektif dalam memilih ustadz dan tidak mudah tergiur dengan ustadz yang memasang tarif tinggi.
Ia menegaskan bahwa ilmu yang berkah adalah ilmu yang disampaikan dengan niat tulus tanpa mencari keuntungan pribadi.
Dengan demikian, UAH mengajak seluruh umat Islam untuk kembali kepada esensi dakwah yang sejati, yaitu menyampaikan ilmu dengan penuh keikhlasan dan menghindari komersialisasi dalam berdakwah.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul
Â
