Permintaan Maaf Ditolak Picu Tekanan Meningkat pada Pemimpin Hong Kong

Tekanan terhadap pemimpin Hong Kong disebut meningkat setelah permintaan maafnya ditolak demonstran penentang RUU ekstradisi.

oleh Happy Ferdian Syah Utomo diperbarui 17 Jun 2019, 11:28 WIB
Diterbitkan 17 Jun 2019, 11:28 WIB
Aksi protes warga Hong Kong menolak RUU ekstradisi ke China daratan (AFP Photo)
Aksi protes warga Hong Kong menolak RUU ekstradisi ke China daratan (AFP Photo)

Liputan6.com, Hong Kong - Aksi protes diperkirakan berlanjut pekan ini di Hong Kong, menyusul penolakan para demonstran terhadap permintaan maaf pemimpin eksekutif kota itu, Carrie Lam, pada Minggu malam.

Sebagaimana diketahui, Lam menyampaikan permintaan maaf "karena telah menyebabkan perselisihan dan keresahan pada masyarakat Hong Kong", namun menolak untuk mengundurkan diri.

Padahal, sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Senin (17/6/2019), pengunduran diri Lam adalah salah satu tuntutan aksi protes yang berlangsung di Hong Kong sejak 9 Juni 2019, bersama dengan desakan untuk menghapus penuh RUU ekstradisi, yang berisiko membuat tersangka ditangkap dan diadili sepihak oleh otoritas China daratan.

"Pemerintahannya tidak bisa berjalan efektif, dan akan memiliki banyak kesulitan di tengah jalan," kata legislator senior Partai Demokrat James To kepada lembaga penyiaran pemerintah setempat, RTHK.

"Saya percaya pemerintah pusat (China) akan menerima pengunduran dirinya," lanjutnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh para politikus oposisi, yang mendukung seruan demonstran agar Carrie Lam mundur bersama dengan RUU ekstradisi yang dipegangnya.

"Kami tidak bisa menerima permintaan maafnya, itu tidak menghilangkan semua ancaman pada kami," kata pekerja sosial Brian Chau, di tengah ratusan pengunjuk rasa yang menginap di distrik Admiralty, yang merupakan pusat gedung-gedung pemerintah Hong Kong.

Adapun protes pada hari Minggu disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah Hong Kong, sejak wilayah administrasi khusus itu dikembalikan dari Kerajaan Inggris ke China pada 1997 silam.

Sebanyak dua juta orang diperkirakan terlibat dalam unjuk rasa hari Minggu, meski jumlah tersebut belum diverifikasi. Mayoritas pengunjuk rasa mengenakan pakaian hitam dan membawa bunga putih sebagai lambang keprihatinan atas semakin kuatnya tekanan China di Hong Kong.

Simak video pilihan berikut:

Massa Tolak Membubarkan Diri

Protes RUU Ekstradisi, Warga Hong Kong Blokir Akses ke Parlemen
Pengunjuk rasa berkumpul di luar gedung parlemen di Hong Kong, Rabu (12/6/2019). Ribuan pengunjuk rasa memblokir pintu masuk ke kantor pusat pemerintah Hong Kong untuk memprotes RUU Ekstradisi. (AP Photo/Vincent Yu)

Pada Senin pagi, beberapa ratus pengunjuk rasa menolak pembubaran yang diserukan oleh polsisi Hong Kong.

Di distrik Admiralty, seruan bubar oleh polisi melalui pengeras suara dibalas langsung oleh pengunjuk rasa. Melalui mikrofon, beberapa darinya mengatakan tidak akan pergi sebelum Lam menemui mereka secara langsung untuk mediasi.

"Kami tidak menggangu yang lain, kami di sini justru untuk bantu menyuarakan keprihatinan rakyat Hong Kong," ujar salah seorang demonstran.

Aksi protes hari Minggu merupakan tanggapan terhadap keputusan Lam untuk menunda pembahasan RUU ekstradisi tanpa batasan waktu yang jelas.

Selain menuntut pencabutan RUU ekstradisi secara penuh, demonstran juga meluapkan kemarahan pada cara polisi menangani unjuk rasa pada Rabu lalu, yang menyebabkan lebih dari 70 orang terluka akibat peluru karet dan gas air mata.

Sementara itu, polisi Hong Kong mengumumkan catatan resmi jumlah demonstran pada aksi protes hari Minggu berjumlah sekitar 338.000 orang, jauh dari klaim penyelenggara yang menyebut angka dua juta jiwa.

Rencana Terus Menekan Carrie Lam

Carrie Lam, kepala eksekutif Hong Kong terpilih
Carrie Lam, kepala eksekutif Hong Kong terpilih (Kin Cheung/AP)

Penyelenggara protes berencana terus menekan Lam, dengan menyerukan pelajar dan pekerja untuk ikut berunjukrasa pada hari Senin.

Banyak toko dan gedung di Pulau Hong Kong tetap tutup hingga hari Senin. Kebijaka serupa juga berlaku pada kantor pemerintahan di seluruh wilayah eks koloni Inggris itu, termasuk area di Semenanjung Kowloon dan pulau-pulau di sekitarnya.

Sementara itu, para pengunjuk rasa juga dikabarkan tengah menunggu momen penting pembebasan Joshua Wong, yang merupakan wajah utama pada demonstrasi gerakan payung pada 2014 lalu.

Ia dijadwalkan keluar dari balik jeruji besi pada hari Senin.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Video Terkini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya