Ilmuwan Ungkap Mutasi Ikan di Palung Terdalam di Dunia

Ikan tersebut memiliki bentuk tubuh yang rapuh dan transparan, dengan moncong yang menyerupai karakter kartun. Selain itu, tim juga menemukan spesies krustasea raksasa dengan panjang tubuh hingga 30 sentimeter di kedalaman yang sama. ​

oleh Switzy Sabandar Diperbarui 05 Apr 2025, 05:00 WIB
Diterbitkan 05 Apr 2025, 05:00 WIB
Hadal snailfish yang diidentifikasi sebagai Pseudoliparis swirei di Palung Mariana.
Hadal snailfish yang diidentifikasi sebagai Pseudoliparis swirei di Palung Mariana. (Sumber: Gerringer M. E., Linley T. D., Jamieson A. J., Goetze E., Drazen J. C. / CC BY 3.0)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Para ilmuwan telah berhasil mengungkap kehidupan ikan di kedalaman ekstrem lautan, menyoroti kemampuan adaptasi luar biasa dari spesies ikan siput (snailfish) yang hidup di palung-palung terdalam dunia. Penemuan ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana kehidupan dapat bertahan dalam kondisi tekanan tinggi dan lingkungan yang gelap gulita.

Pada Desember 2014, tim peneliti dari Kajian Ekosistem Hadal (Hades) melakukan ekspedisi ke Palung Mariana, palung terdalam di dunia dengan kedalaman mencapai sekitar 11 kilometer di bawah permukaan laut. Dikutip dari aman Live Science pada Jumat (04/04/2025), mereka berhasil merekam spesies ikan yang belum pernah dilihat sebelumnya pada kedalaman 8.145 meter.

Ikan tersebut memiliki bentuk tubuh yang rapuh dan transparan, dengan moncong yang menyerupai karakter kartun. Selain itu, tim juga menemukan spesies krustasea raksasa dengan panjang tubuh hingga 30 sentimeter di kedalaman yang sama. ​

Pada April 2023, ilmuwan dari Jepang dan Australia merekam spesies ikan siput dari genus Pseudoliparis berenang di Palung Izu-Ogasawara pada kedalaman 8.336 meter. Rekaman ini menjadi pengamatan terdalam terhadap ikan yang pernah dilakukan.

Ikan tersebut mampu bertahan pada tekanan lebih dari 800 atmosfer, setara dengan 800 kali tekanan di permukaan laut. Tekanan sebesar itu cukup untuk meremukkan kebanyakan organ organisme hidup.

Penelitian lebih lanjut terhadap ikan siput dari Palung Yap mengungkap bahwa mereka memiliki salinan ekstra untuk gen-gen yang terlibat dalam perbaikan DNA, termasuk rangkap delapan dari gen rad51. Beberapa gen perbaikan DNA tersebut juga mengalami mutasi yang mengubah peruntukan protein.

Selain itu, ikan ini memiliki lima salinan gen fmo3 yang krusial untuk produksi trimethylamine N-oxide (TMAO), senyawa kimia yang menstabilkan protein dan melindungi dari kerusakan akibat tekanan tinggi. Sebaliknya, genom ikan ini kehilangan banyak gen reseptor penciuman, diduga menyebabkan indera penciuman yang lemah.

Hal ini mungkin karena diet mereka yang monoton, terutama terdiri dari satu spesies krustasea. Selain pengamatan melalui rekaman video, para ilmuwan juga berhasil menangkap ikan siput pada kedalaman 8.022 meter di Palung Jepang.

Ikan-ikan tersebut diidentifikasi sebagai Pseudoliparis belyaevi, mencatatkan rekor sebagai ikan yang berhasil ditangkap di laut terdalam. Penemuan ini menunjukkan bahwa ikan siput mampu hidup dan berkembang biak pada kedalaman yang sebelumnya dianggap tidak mungkin bagi kehidupan ikan.

(Tifani)

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya