Fadhilahnya Dahsyat, Ini Amalan di Hari Raya Idul Fitri, Makan Bisa Berpahala

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa selain amalan vertikal, ada juga amalan sosial yang sangat dianjurkan pada hari raya. Salah satunya adalah menjalin silaturahim, baik dengan orang tua, keluarga, maupun tetangga.

oleh Liputan6.com Diperbarui 26 Mar 2025, 20:30 WIB
Diterbitkan 26 Mar 2025, 20:30 WIB
UAH (SS. YT Short @Andhap_asor)
UAH (SS. YT Short @Andhap_asor)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Hari Raya Idul Fitri bukan hanya momen untuk merayakan kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, tetapi juga kesempatan untuk mengamalkan berbagai amalan yang berpahala besar. Ada dua jenis amalan yang bisa dimaksimalkan pada hari tersebut, yaitu amalan yang berhubungan dengan Allah (habluminallah) dan amalan yang berkaitan dengan sesama manusia (habluminannas).

Salah satu sunnah yang bisa diamalkan adalah makan sebelum berangkat sholat Idul Fitri. Sunnah ini menunjukkan bahwa puasa telah berakhir dan seorang muslim diperintahkan untuk segera menyantap makanan sebelum melaksanakan sholat.

“Makan sebelum sholat Idul Fitri itu berpahala. Bukan makan sekenyangnya, tetapi sekadar mencicipi makanan sebagai tanda bahwa puasa telah berakhir,” ujar pendakwah muda Ustadz Adi Hidayat (UAH).

Selain itu, amalan utama yang tidak boleh dilewatkan adalah melaksanakan sholat Idul Fitri. Sholat dua rakaat ini hanya dilakukan setahun sekali, sehingga jika seseorang melewatkannya, maka ia harus menunggu satu tahun lagi untuk mendapatkan kesempatan yang sama.

“Pahalanya sangat besar. Walaupun hukumnya sunnah, tetapi sunnah ini hanya ada setahun sekali. Jika ketinggalan, harus menunggu tahun depan, itu pun kalau masih hidup,” jelas UAH.

Dalam pelaksanaannya, sholat Idul Fitri dianjurkan dilakukan secara berjamaah. Momentum ini juga menjadi ajang untuk mempererat ukhuwah Islamiyah dengan sesama muslim, karena umat Islam berkumpul dalam jumlah besar untuk beribadah bersama.

Dikutip dari tayangan video di kanal YouTube @nurislami, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa selain amalan vertikal, ada juga amalan sosial yang sangat dianjurkan pada hari raya. Salah satunya adalah menjalin silaturahim, baik dengan orang tua, keluarga, maupun tetangga.

 

Promosi 1

Simak Video Pilihan Ini:

Datangi Orang Tua

Bersama Ribuan Umat Muslim, Wapres Ma’ruf Amin Laksanakan Shalat Idul Fitri 1443 H di Masjid Istiqlal
Umat muslim melaksanakan sholat Idul Fitri di Masjid Istiqlal, Jakarta. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)... Selengkapnya

“Datangilah orang tua, minta rida dan doanya. Minta maaf kepada mereka, karena ridanya orang tua adalah salah satu kunci keberkahan hidup,” katanya.

Silaturahim pada hari raya tidak hanya sebatas berkunjung, tetapi juga menjadi sarana untuk meminta maaf dan saling memaafkan. Jika sebelumnya ada perselisihan atau kesalahpahaman, maka Idul Fitri menjadi waktu yang tepat untuk menyelesaikan perbedaan dan memperbaiki hubungan.

“Minta maaflah, dan jangan gengsi untuk memulai. Jangan tunggu orang lain yang meminta maaf duluan, karena yang terbaik adalah yang lebih dulu memaafkan,” tegasnya.

Di Indonesia, tradisi mudik menjadi salah satu bentuk nyata dari penerapan silaturahim. Banyak orang rela menempuh perjalanan jauh untuk bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman dan merayakan hari raya bersama.

Namun, dalam semangat merayakan Idul Fitri, jangan sampai persiapan duniawi lebih diutamakan dibandingkan persiapan akhirat. Mudik dan perayaan boleh dilakukan, tetapi amalan ibadah tetap harus menjadi prioritas utama.

“Jangan sampai mudiknya hanya untuk urusan dunia. Bekal akhirat juga harus disiapkan. Jangan pulang kampung hanya bawa oleh-oleh, tapi lupa membawa amalan,” pesannya.

Selain itu, memperbanyak takbir sejak malam Idul Fitri hingga sebelum sholat juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Takbir ini sebagai bentuk pengagungan kepada Allah dan ungkapan syukur atas nikmat yang telah diberikan selama bulan Ramadhan.

 

Lakukan Sedekah

caption sedekah
sedekah ©Ilustrasi dibuat AI... Selengkapnya

Menghidupkan malam Idul Fitri dengan ibadah, seperti sholat malam dan membaca Al-Qur’an, juga menjadi salah satu amalan yang memiliki nilai pahala besar. Malam hari raya bukan hanya waktu untuk bersiap merayakan esok hari, tetapi juga kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Bersedekah juga termasuk dalam amalan yang dianjurkan. Idul Fitri adalah momen untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kurang mampu. Dengan berbagi rezeki, seseorang tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga membantu sesama agar bisa merasakan kebahagiaan di hari raya.

“Jangan lupakan sedekah. Ada saudara kita yang kurang mampu. Berbagilah, walau hanya sedikit, karena di mata Allah, keikhlasan lebih berharga daripada jumlahnya,” ujarnya.

Memberikan hadiah kepada keluarga, saudara, atau teman juga bisa menjadi bentuk sedekah. Hal ini sesuai dengan anjuran untuk mempererat kasih sayang dan memperkuat hubungan baik dengan sesama.

Bagi yang mampu, memperbanyak doa dan dzikir di hari raya juga sangat dianjurkan. Idul Fitri adalah waktu yang penuh keberkahan, sehingga memperbanyak doa bisa menjadi sarana untuk memohon kebaikan dan keberkahan dalam hidup.

“Jangan sibuk dengan gadget atau acara hiburan saja. Perbanyak dzikir dan doa, karena Idul Fitri adalah hari yang penuh berkah,” tuturnya.

Menghindari perbuatan yang sia-sia dan berlebihan dalam merayakan Idul Fitri juga sangat penting. Jangan sampai euforia hari raya justru melalaikan seseorang dari ibadah dan membuatnya melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.

“Jangan sampai Idul Fitri diisi dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Jangan ada pesta hura-hura, jangan sampai malah bermaksiat,” tegasnya.

Idul Fitri adalah momen kembali kepada kesucian dan mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, amalan yang dilakukan seharusnya menguatkan keimanan dan menjadikan seseorang lebih baik setelah melewati bulan Ramadhan.

Ustadz Adi Hidayat menekankan bahwa amalan-amalan ini tidak hanya untuk dikerjakan di hari raya saja, tetapi juga harus dipertahankan setelah Idul Fitri berlalu. Seorang muslim seharusnya tetap istiqamah dalam beribadah dan menjaga hubungan baik dengan sesama sepanjang tahun.

“Jangan sampai setelah Ramadhan berakhir, kita kembali ke kebiasaan buruk. Idul Fitri harus menjadi titik awal untuk kehidupan yang lebih baik,” pesannya.

Dengan memaksimalkan amalan di Hari Raya Idul Fitri, seseorang tidak hanya merayakan kemenangan secara fisik, tetapi juga meraih kemenangan dalam keimanan dan ketakwaan.

Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya