Gizi Anak dari Masyarakat Ekonomi Bawah Sulit Terpenuhi Telur dan Daging, Ini Kata Kemenkes

Masih sulitnya kecukupan telur dan daging bagi anak dari kalangan masyarakat ekonomi ke bawah.

oleh Fitri Haryanti Harsono diperbarui 20 Jan 2023, 17:00 WIB
Diterbitkan 20 Jan 2023, 17:00 WIB
Kenali Alasan Anak Tidak Mau Makan dan Cara Mengatasinya
Ilustrasi anak di meja makan. (Sumber foto: Pexels.com).

Liputan6.com, Jakarta - Masih banyak anak dari kalangan masyarakat ekonomi ke bawah yang sulit terpenuhi gizi lewat konsumsi telur dan daging. Hal ini juga lantaran harga telur dan daging terbilang mahal sehingga tak bisa dijangkau oleh mereka.

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu Anak (GIZI KIA) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Ni Made Diah, sebenarnya harga telur dapat dijangkau oleh masyarakat dengan ekonomi ke bawah.

Namun, yang perlu dipahami bersama adalah bagaimana mengatur pola belanja di rumah tangga. Terlebih lagi kerap terlihat masyarakat ekonomi kelas bawah tak segan untuk membeli rokok ketimbang membeli pangan bergizi untuk anak, khususnya protein hewani seperti telur, daging, dan ikan.

"Perlu adanya dukungan, bagaimana strategi komunikasi bisa membantu belanja-belanja dari masyarakat kelas ekonomi bawah ini supaya bisa memprioritaskan makanan anak," terang Diah menjawab pertanyaan Health Liputan6.com saat Media Briefing: Peringatan Hari Gizi Nasional 2023, "Protein Hewani Cegah Stunting" pada Jumat, 20 Januari 2023.

"Saya rasa ini masih banyak masyarakat kita yang bisa menjangkau, tetapi dengan mengubah pola belanjanya."

Ditegaskan kembali oleh Diah, khusus masyarakat ekonomi ke bawah dapat menjangkau protein hewani. Dalam hal ini, protein hewani tidak harus mahal. Apalagi protein hewani dapat mencegah stunting pada anak.

"Bisa ikan lele, misalnya Rp25.000 per kilo, nanti kalau lelenya misal 1 kilo isinya 8, nah berarti dia bisa makan dua setengah hari," lanjutnya.

"Sementara harga rokok ini Rp14.000 untuk 12 batang, itu paling murah gitu. Satu hari habis (rokok)."


Harga Telur Cukup Terjangkau

Harga Kebutuhan Pokok Naik
Telur yang dijual terlihat di Pasar Cibubur, Jakarta, Kamis (16/6/2022). Berdasarkan pantauan di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), terpantau ada beberapa kebutuhan pokok yang harganya naik. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Sebagai gambaran umum, Ni Made Diah menambahkan, harga telur cukup terjangkau. Telur ini pun dapat dijangkau masyarakat ekonomi ke bawah. 

Perlu ditekankan juga bahwa telur dan ikan termasuk pangan protein hewani yang dapat mencegah stunting. Satu butir telur sehari yang dikonsumsi anak akan mampu mencukupi kebutuhan protein hewaninya.

"Telur, ikan itu berkorelasi sangat kuat untuk mencegah stunting dan harga telur ini sebenarnya cukup terjangkau. Kalau telur Rp30.000 satu kilo isinya 16 butir, artinya Rp30.000 itu kita bisa memberikan protein 3 kali 1 (sehari) pada anak kita," tambah Diah.

Terkait dengan program-program pemerintah dalam penanganan stunting, lanjut Diah, sebenarnya sudah tersedia. Seperti di Kementerian Sosial yang memiliki program Keluarga Harapan.

"Di situ ada bantuan pangan termasuk di dalamnya telur yang menjangkau masyarakat kelas ekonomi bawah," pungkasnya.


Lebih Baik Beli Telur ketimbang Rokok

FOTO: Sembako Bakal Kena Pajak
Pedagang menimbang telur di Pasar Tebet Timur, Jakarta, Jumat (11/6/2021). Kementerian Keuangan menyatakan kebijakan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN), termasuk soal penerapannya pada sembilan bahan pokok (sembako), masih menunggu pembahasan lebih lanjut. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin juga menyoroti lebih baik baik membeli telur untuk kebutuhan gizi anak ketimbang rokok. Hal ini disampaikan Budi Gunadi merespons larangan penjualan rokok batangan yang merupakan satu dari tujuh materi pokok yang akan disusun dalam rancangan peraturan pemerintah tahun ini.

Budi Gunadi menilai sebaiknya masyarakat Indonesia menggunakan uangnya untuk hal bermanfaat.

"Soal rokok, uang rokok sebaiknya bayar buat beli telur, beli bahan lain. Bukan beli rokok," katanya saat ditemui di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Selasa (3/1/2023).

Terpisah, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa 71 persen remaja di Indonesia membeli rokok ketengan. Prevalensi perokok remaja terus meningkat setiap tahun.

Data terakhir, peningkatan prevalensi perokok remaja sebesar sembilan persen. Diperkirakan pada tahun 2024, prevalensi perokok remaja naik hingga 15 persen.

"78 Persen terdapat penjualan rokok di sekitar sekolah dan mencantumkan harga ketengan," imbuhnya.

Nadia menjelaskan, pengendalian zat tembakau melibatkan lintas sektor. Seperti melarang penjualan rokok batangan, memperbesar ukuran peringatan kesehatan pada bungkusan rokok hingga melarang iklan rokok.

Infografis Rokok Kalahkan Telur dan Ayam, Tertinggi Kedua Setelah Beras
Infografis Rokok Kalahkan Telur dan Ayam, Tertinggi Kedua Setelah Beras (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Video Terkini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya