Sambal Asam Kumbang, Kuliner Lampung dengan Aroma Menggugah Selera

Salah satu bahan utama yang membedakan Sambal Asam Kumbang dari jenis sambal lainnya adalah penggunaan buah kemang

oleh Panji Prayitno Diperbarui 26 Feb 2025, 12:00 WIB
Diterbitkan 26 Feb 2025, 12:00 WIB
Sambal Asam Kumbang, Kuliner Lampung Dengan Aroma Menggugah Selera
Resep sambal asam khas cirebon copyright/freepik... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia merupakan negeri yang kaya akan kuliner tradisional, dengan setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing. Salah satu kuliner yang unik dan jarang diketahui dari Provinsi Lampung adalah Sambal Asam Kumbang.

Sambal ini memiliki keunikan tersendiri karena menyatukan rasa kecut alami dari buah kemang, kepedasan cabai yang menggigit, serta aroma khas dari rempah-rempah yang digunakan dalam pembuatannya.

Tidak seperti sambal pada umumnya yang hanya mengandalkan cabai dan garam sebagai bahan utama, sambal ini justru mendapatkan kekayaan rasanya dari perpaduan sempurna antara bahan-bahan lokal yang khas. Bagi masyarakat Lampung, Sambal Asam Kumbang bukan sekadar pelengkap makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu bahan utama yang membedakan Sambal Asam Kumbang dari jenis sambal lainnya adalah penggunaan buah kemang. Buah ini berasal dari keluarga Mangifera, yang masih satu keluarga dengan mangga, namun memiliki rasa yang jauh lebih asam dan aroma yang khas.

Bentuknya mirip dengan mangga muda, tetapi dengan warna yang cenderung lebih kekuningan saat matang. Dalam masakan tradisional, kemang sering digunakan sebagai bahan utama dalam berbagai olahan sambal karena memberikan sentuhan rasa kecut yang unik, berbeda dengan asam jawa atau belimbing wuluh yang lebih umum digunakan dalam masakan Nusantara.

Keasaman buah kemang dalam Sambal Asam Kumbang menciptakan keseimbangan rasa dengan pedasnya cabai, menghasilkan sensasi segar yang menggugah selera. Proses pemilihan kemang yang tepat menjadi faktor penting dalam pembuatan sambal ini.

Biasanya, kemang yang digunakan adalah yang sudah matang tetapi belum terlalu lunak, sehingga masih memiliki tekstur yang cukup padat untuk diulek bersama cabai dan bumbu lainnya.

Jika kemang terlalu matang, rasa asamnya akan berkurang dan teksturnya menjadi terlalu lembek, sehingga tidak memberikan efek kecut yang optimal pada sambal. Sebaliknya, jika terlalu muda, rasanya bisa terlalu pahit dan kurang enak.

Oleh karena itu, pengalaman dan keterampilan dalam memilih kemang yang pas sangat menentukan kualitas akhir dari Sambal Asam Kumbang ini. Selain buah kemang, elemen utama lainnya dalam Sambal Asam Kumbang adalah cabai.

Rasa Autentik

Jenis cabai yang digunakan bisa bervariasi, mulai dari cabai merah besar yang memberikan warna merah menggoda, hingga cabai rawit yang menghasilkan tingkat kepedasan yang lebih tinggi.

Dalam masyarakat Lampung, sambal ini sering dibuat dengan tingkat kepedasan yang cukup tinggi, sesuai dengan selera masyarakat setempat yang memang dikenal menyukai makanan pedas.

Namun, bagi yang tidak terlalu tahan pedas, jumlah cabai bisa disesuaikan agar tetap bisa menikmati sensasi unik dari sambal ini tanpa terlalu merasa kepedasan.

Selain cabai, rempah-rempah aromatik juga berperan penting dalam menciptakan karakteristik rasa Sambal Asam Kumbang. Biasanya, bawang merah dan bawang putih digunakan untuk memberikan rasa gurih alami, sementara terasi bakar ditambahkan untuk memperkaya aroma dan kedalaman rasa.

Tak jarang, beberapa resep juga mencampurkan sedikit garam, gula aren, atau bahkan perasan jeruk nipis untuk menyeimbangkan rasa. Proses pengulekan sambal dilakukan dengan cara tradisional menggunakan cobek batu, yang membantu menyatukan semua bahan secara alami tanpa merusak teksturnya.

Hasilnya adalah sambal dengan tekstur kasar tetapi tetap menyatu dengan baik, menciptakan sensasi makan yang lebih nikmat. Sambal Asam Kumbang biasanya disajikan sebagai pelengkap dalam berbagai hidangan khas Lampung, terutama makanan berbahan dasar ikan dan daging.

Salah satu kombinasi paling populer adalah dengan ikan bakar, di mana daging ikan yang lembut dan beraroma asap dipadukan dengan sambal yang segar dan pedas, menciptakan harmoni rasa yang luar biasa. Selain ikan, sambal ini juga cocok disajikan dengan ayam panggang, bebek goreng, atau bahkan lalapan sederhana seperti timun dan kemangi.

Dalam beberapa kesempatan, Sambal Asam Kumbang juga digunakan sebagai campuran dalam hidangan berbahan dasar sayur, seperti sayur urap atau pecel khas Lampung.

Penggunaan sambal ini dalam masakan berbasis sayur memberikan dimensi rasa tambahan yang lebih kompleks dan menggugah selera. Bahkan, beberapa orang menikmatinya sebagai cocolan untuk kerupuk atau singkong goreng, menjadikannya sebagai camilan pedas yang menggoda.

Lebih dari sekadar makanan, Sambal Asam Kumbang memiliki nilai budaya yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Lampung. Sambal ini sering disajikan dalam acara adat atau perayaan keluarga, di mana makanan memiliki peran penting dalam mempererat hubungan sosial.

Selain itu, pembuatan sambal ini sering kali masih dilakukan secara tradisional, diwariskan dari generasi ke generasi melalui praktik langsung di dapur keluarga. Namun, dengan semakin berkembangnya industri makanan modern dan perubahan pola konsumsi masyarakat, keberadaan Sambal Asam Kumbang mulai jarang ditemui di luar rumah tangga tradisional.

Oleh karena itu, pelestarian sambal ini menjadi tanggung jawab bersama, baik melalui dokumentasi resep, promosi dalam festival kuliner, maupun usaha dari masyarakat setempat untuk terus memasak dan memperkenalkan sambal ini kepada generasi muda.

Dengan perpaduan unik antara keasaman buah kemang, kepedasan cabai, dan aroma rempah-rempah, sambal ini menawarkan pengalaman rasa yang autentik dan menggugah selera. Tidak hanya sebagai pelengkap makanan, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi dan identitas masyarakat Lampung yang patut dilestarikan.

Bagi pecinta kuliner Nusantara, mencicipi Sambal Asam Kembang adalah sebuah pengalaman yang tidak boleh dilewatkan, sekaligus menjadi cara untuk lebih mengenal dan menghargai keberagaman kuliner Indonesia.

Penulis: Belvana Fasya Saad

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya