Liputan6.com, Jakarta - Dua maskapai di Timur Tengah, yakni Etihad Airways dan Flynas tengah bersiap untuk melantai di bursa saham lokal atau IPO tahun ini.
Ini akan menandai IPO pertama oleh maskapai Timur Tengah dalam hampir 20 tahun, dengan Etihad menjajaki investor pekan depan menjelang penjualan potensial sekitar 20% saham.
Baca Juga
Mengutip US News, Senin (27/1/2025) dua sumber terkait melaporkan bahwa Etihad sedang mempertimbangkan untuk melantai di bursa pada kuartal pertama tahun ini, dengan menargetkan investor lokal dan internasional.
Advertisement
Etihad Airways membidik pengumpulan modal sekitar USD1 miliar atau Rp16,2 triliun untuk IPO maskapai pertama di Teluk sejak Jazeera Airways milik Kuwait go public pada tahun 2008.
Adapun maskapai berbiaya rendah asal Arab Saudi, Flynas, yang didukung oleh Kingdom Holding, perusahaan investasi milik miliarder Pangeran Alwaleed Bin Talal, juga berencana melantai di bursa tahun ini.
Flynas bernilai setidaknya USD 2 miliar atau Rp32,4 triliun.
Rencana IPO juga termasuk maskapai asal Qatar, Qatar Airways.
Sementara itu, baik pihak Etihad Airways, dan pemiliknya, dana kekayaan negara Abu Dhabi ADQ, menolak berkomentar terkait rencana IPO. Flynas juga tidak menanggapi permintaan komentar.
CEO Kingdom Holding mengatakan kepada penyiar milik negara Saudi Al Arabiya TV pekan lalu bahwa perusahaan tersebut sudah berada dalam tahap akhir untuk mendapatkan persetujuan dari regulator pasar Arab Saudi, untuk mencatatkan saham di Riyadh.
Didukung Sektor Pariwisata
Maskapai Emirates sebelumnya juga telah ditandai sebagai kandidat potensial IPO. Ketua dan kepala eksekutifnya, Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum mengatakan kepada wartawan pada 2024 lalu bahwa IPO bukanlah keputusannya dan ini akan menjadi keputusan pemerintah Dubai,
Potensi pencatatan didorong sebagian oleh upaya pemerintah negara-negara Timur Tengah untuk mendiversifikasi ekonomi mereka dari minyak, bertaruh pada sektor-sektor seperti pariwisata karena perjalanan internasional pulih setelah pandemi.
IPO akan memungkinkan investor untuk mengakses pasar dengan potensi pertumbuhan yang signifikan, kata analis penerbangan John Strickland, mengutip kemampuan hub karena lokasi geografis antara Eropa dan Asia, ditambah daya tarik Dubai sebagai tujuan wisata.
Advertisement
17 Perusahaan Raksasa Antre IPO di 2025, Ini Bocorannya
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan bahwa terdapat 17 perusahaan beraset skala besar dalam pipeline yang akan melangsungkan Initial Public Offering (IPO) di pasar modal Indonesia. Perusahaan-perusahaan ini memiliki aset di atas Rp 250 miliar, sesuai dengan kriteria Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa secara total, terdapat 18 perusahaan dalam antrean untuk melantai di bursa. Dari jumlah tersebut, 17 perusahaan beraset skala besar, sementara satu perusahaan lainnya termasuk dalam kategori aset menengah dengan nilai aset antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.
"Dalam pipeline IPO tersebut, terdapat perusahaan dari berbagai sektor, di antaranya enam perusahaan dari sektor barang konsumen primer, tiga perusahaan sektor industri, dua perusahaan sektor energi, dua perusahaan sektor kesehatan, dua perusahaan sektor barang baku, satu perusahaan sektor barang konsumen non-primer, satu perusahaan sektor keuangan, dan satu perusahaan sektor transportasi & logistik,” ujar Nyoman dikutip dari Antara, Minggu (26/1/2025).
Capaian Dana IPO dan EBUS
Hingga 24 Januari 2025, telah tercatat delapan perusahaan yang sukses melaksanakan IPO di pasar modal Indonesia. Dari aksi tersebut, dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 3,70 triliun.
Pada periode yang sama, terdapat delapan emisi dari tujuh penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS), dengan total dana yang dihimpun sebesar Rp 8,6 triliun. Selain itu, terdapat 18 emisi dari 14 penerbit EBUS yang saat ini masih berada dalam pipeline untuk menerbitkan emisi serupa.
Rights Issue Masih Sepi
Berbeda dengan aksi IPO, hingga 24 Januari 2025, belum ada perusahaan tercatat yang melakukan aksi rights issue. Namun, terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline rights issue yang terdiri dari tiga perusahaan sektor barang baku, dua perusahaan sektor energi, dan dua perusahaan sektor kesehatan.