Liputan6.com, Den Haag - Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte yakin tidak ada alasan hukum yang cukup untuk menuntutnya di Mahkamah Pidana Internasional (ICC), kata putrinya pada Minggu (23/3/2025), dan dia juga percaya bahwa argumen hukumnya kuat.
Sara Duterte, Wakil Presiden Filipina, mengatakan kepada wartawan bahwa ayahnya kini dalam kondisi kesehatan yang lebih baik setelah terlihat lelah dan bingung pada sidang pertamanya di ICC.
"Dia sangat yakin dengan argumen hukumnya. Dia sangat yakin ... bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah dan sebenarnya tidak ada kasus yang perlu dibahas," kata Sara seperti dikutip CNA.
Advertisement
Mantan presiden berusia 79 tahun itu menghadapi tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait "perang terhadap narkoba" yang dilancarkannya, yang dikaitkan dengan ribuan kematian ekstrayudisial (pembunuhan di luar proses hukum) yang diduga dilakukan oleh aparat keamanan dan kelompok vigilante.
Saat ini, dia berada di pusat penahanan di Den Haag, menunggu sidang praperadilan pada 23 September untuk memastikan apakah tuduhan terhadapnya cukup kuat. Dalam sidang tersebut, dia akan memiliki kesempatan untuk membantah tuduhan yang diajukan.
Duterte dibawa secara paksa ke pesawat di Manila dan diterbangkan ke Den Haag melalui Dubai pada Selasa (11/3). Dua hari kemudian, pada sidang pertamanya, dia terlihat hampir tidak sadar sepenuhnya.
Namun, putrinya yang mengunjunginya pada Sabtu mengatakan, "Dia merasa lebih baik sekarang dan untungnya dokter serta perawat merawatnya dengan baik."
Sebelumnya, Sara mengungkapkan bahwa keluhan utama ayahnya adalah makanan Belanda yang disajikan di pusat penahanan.
"Dia mendapatkan nasi. Itu yang kami minta dan itu dimasak dengan sempurna. Sesuai dengan selera orang Filipina," tutur Sara.
Duterte juga, kata Sara, meminta pakaian pribadinya dan persediaan diet cola.
Sebelumnya, pada hari Minggu, Sara menyampaikan pidato di hadapan ribuan pendukung yang berkumpul di Malieveld, Den Haag.
Para pendukungnya meneriakkan "bawa dia pulang", di mana mereka percaya bahwa mantan presiden itu "diculik" untuk menghadapi ICC.