Respons KPK soal Wacana Memiskinkan Keluarga Koruptor

KPK memastikan mendukung upaya pemiskinan koruptor. Namun terkait wacana memiskinkan keluarga koruptor, KPK menilai perlu kajian yang lebih mandalam lagi.

oleh Nafiysul Qodar Diperbarui 10 Apr 2025, 04:04 WIB
Diterbitkan 10 Apr 2025, 04:04 WIB
20160422- Seni Mural Adab Kotor Seekor Koruptor-Jakarta-Helmi Afandi
Sebuah karya seni bergambar tikus dibuat seniman mural di depan Gedung KPK, Jakarta, Jumat (22/4). Sejumlah seniman membuat mural bertema Adab Kotor Seekor Koruptor. (Liputan6.com/Helmi Afandi)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turut merespons wacana pemiskinan keluarga koruptor yang ditanyakan sejumlah jurnalis senior kepada Presiden Prabowo Subianto belum lama ini. 

Menurut Juru Bicara KPK Tessa Mahardhika Sugiarto Tessa, wacana memiskinkan keluarga koruptor memerlukan diskusi yang mendalam.

“Tentu perlu ada diskusi lebih lanjut, tetapi secara umum KPK mendukung Presiden Prabowo dalam rangka pemiskinan koruptor,” kata Tessa di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (9/4/2025).

Ia lantas mengingatkan bahwa wacana pemiskinan koruptor agar tidak menyentuh keluarganya tetap perlu melihat konteksnya.

“Apabila ada hal-hal yang dinikmati oleh keluarga dan diketahui secara nyata, ada mekanisme di Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU), di pasal 5,” ujarnya, seperti dikutip dari Antara.

Pasal 5 UU TPPU berbunyi: “Setiap orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”

Adapun saat ini Pasal 5 UU TPPU tersebut telah dicabut dengan UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Pasal 607 ayat (1) huruf c UU KUHP berbunyi: “Setiap orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak kategori VI.”

 

KPK Dukung Pemiskinan Koruptor

20160908- Aktivis Serahkan Lukisan Anti Korupsi ke KPK-Jakarta- Helmi Afandi
Sejumlah aktivis menyerahkan lukisan bertema koruptor ke KPK, Kamis (8/9). Lukisan tersebut bergambar seekor tikus berkepala manusia sedang membawa uang. (Liputan6.com/Helmi Afandi)... Selengkapnya

Lebih lanjut, Tessa mengatakan bahwa wacana pemiskinan koruptor perlu dibuat undang-undangnya. Terlebih, lanjut dia, cara tersebut sudah diharapkan banyak pihak, yakni KPK dan juga masyarakat Indonesia.

“Undang-undangnya seperti apa nanti bentuknya? Kita juga perlu ada pembahasan para penegak hukum dalam hal ini dari sisi yudikatif, lalu dari sisi eksekutif, dan tentunya legislatif. Namun, secara nilai, KPK mendukung pemiskinan koruptor,” jelasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto saat diwawancarai enam jurnalis di kediamannya, Hambalang, Jawa Barat, Minggu (6/4/2025), mengatakan bahwa aset-aset milik koruptor dapat disita oleh negara.

“Jadi, kerugian negara yang dia timbulkan ya harus dikembalikan, makanya aset-aset pantas kalau negara itu menyita,” ujarnya.

Akan tetapi, Presiden mengatakan bahwa pemiskinan keluarga koruptor perlu dilakukan secara hati-hati.

“Kita juga harus adil kepada anak dan istrinya (koruptor). Kalau ada aset yang sudah milik dia, sebelum dia menjabat, ya nanti para ahli hukum suruh bahas apakah adil anaknya menderita juga gitu? Karena dosa orang tua sebetulnya kan tidak boleh diturunkan ke anaknya,” jelas Presiden.

Infografis Prabowo Perintahkan Kapolri, Jaksa Agung hingga KPK Sikat Koruptor
Infografis Prabowo Perintahkan Kapolri, Jaksa Agung hingga KPK Sikat Koruptor. (Liputan6.com/Abdillah)... Selengkapnya
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya