Jurus Bank Mandiri Hadapi Suku Bunga Tinggi pada 2024

Suku bunga di mana Fed Fund Rate (FFR) ada di level sangat tinggi, BI rate di level 6 persen membayangi kinerja pada 2024.

oleh Elga Nurmutia diperbarui 27 Nov 2023, 18:43 WIB
Diterbitkan 27 Nov 2023, 18:43 WIB
Jurus Bank Mandiri Hadapi Tren Suku Bunga Tinggi pada 2024
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) optimistis bisa mempertahankan likuiditas perusahaan di tengah tren suku bunga tinggi.(Foto: Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) optimistis bisa mempertahankan likuiditas perusahaan di tengah tren suku bunga tinggi yang diprediksi masih berlanjut pada 2024.

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo menuturkan, pihaknya memahami kondisi likuiditas yang ketat akan terus terjadi pada 2024.

Selain itu, suku bunga juga tinggi di mana Fed Fund Rate (FFR) ada di level sangat tinggi, BI rate di level 6 persen dan proyeksi ini akan terus bertahan hingga pertengahan  2024.

"Tentu di era suku bunga yang mahal dan ketatnya likuiditas kami akan terus menjalankan strategi dengan fokus untuk mempertahankan dan meningkatkan CASA ratio," kata dia dalam Public Expose Live 2023 pada Senin (27/11/2023).

Menurut ia, CASA ratio yang tinggi ini akan menjadi salah satu respons yang paling relevan untuk menjaga cost of fund (CoF) perusahaan di level yang cukup rendah.

"Tentu driver utama dari meningkatkan CASA ratio adalah digitalisasi dan juga transaksi, ini menjadi keunggulan kami di Super App Livin' dan Kopra," kata dia. 

Dengan demikian, ia mengatakan, pihaknya akan mengupayakan agar kedua Super App ini dapat menjaga transaksi yang terus meningkat di Bank Mandiri dan akhirnya bisa menjaga CASA ratio di level yang sangat tinggi dan juga cost of fund yang cukup rendah.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.


Bos Bank Mandiri Bocorkan soal Pembagian Dividen 2023

Paparan publik PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada Senin, (27/11/2023). (Foto: Bank Mandiri)
Paparan publik PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada Senin, (27/11/2023). (Foto: Bank Mandiri)

Sebelumnya diberitakan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) berkomitmen untuk terus membagikan keuntungannya bagi para pemegang saham. Bahkan, Perseroan masih dapat mempertahankan dividen payout ratio (DPR) di level 60 persen untuk tahun buku 2023.

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo menuturkan, penentuan dividen ini mempertimbangkan beberapa faktor. Misalnya, permodalan yang sehat dan optimal untuk mendukung pertumbuhan bisnis secara jangka panjang. 

Sebagaimana diketahui, selama empat tahun terakhir Bank Mandiri telah membagikan dividen dengan DPR sebesar 60 persen. 

"Kami secara internal telah melakukan analisis dalam kerangka capital strategi di mana Bank Mandiri masih dapat mempertahankan dividen payout ini ada di level 60 persen dengan tetap menjaga permodalan yang optimal untuk mendukung pertumbuhan bisnis," ujar Sigit dalam Public Expose Live 2023 pada Senin (27/11/2023).

Dia melanjutkan, pada 2023, BMRI telah membagikan dividen kepada pemegang saham sebesar Rp 24,7 triliun untuk tahun buku 2022 dengan dividen yield dibayarkan sebesar 5,3 persen serta capital gain atas saham Bank Mandiri pada 2022 sebesar 41,3 persen.

"Sehingga kami telah memberikan total shareholder return sebesar 46,6  di tahun 2022," kata dia.

Ke depan, Bank Mandiri akan terus mempertahankan konsistensi perusahaan agar terus dapat meningkatkan value kepada seluruh pemegang saham.

 

 

 


Bank Mandiri Siap Luncurkan Paylater di Aplikasi Livin'

Salah satu BUMN yang telah berhasil mewujudkan transformasi digital adalah PT Bank Mandiri Tbk melalui Super App Livin’ by Mandiri. (Dok Kementerian BUMN)
Salah satu BUMN yang telah berhasil mewujudkan transformasi digital adalah PT Bank Mandiri Tbk melalui Super App Livin’ by Mandiri. (Dok Kementerian BUMN)

Sebelumnya diberitakan, layanan menunda dengan mencicil pembayaran alias paylater pada superapps-nya Livin'.

Corporate Secretary BMRI Rudi As Aturridha menyampaikan bahwa fitur tersebut rencananya akan diluncurkan pada akhir tahun 2023.

"Paylater akan menjadi fitur di Livin'. Paylater ini akan segera dilaunching mudah-mudahan akhir Desember akan menjadi satu fasilitas baru yang ada di Livin'," kata Rudi di Toba, Sumatera Utara, Kamis (12/10/2023).

Adapun pihak Mandiri saat ini masih menunggu persetujuan dari regulator terkait Paylater di Livin' tersebut.

"Nah Paylater ini rencananya memang sudah akan (meluncur), tapi kita lagi menunggu persetujuan dari regulator," ujarnya.

Dilansir dari laman resmi Bank Mandiri, Livin’ Paylater merupakan fasilitas pinjaman yang diberikan oleh Bank Mandiri untuk pembayaran transaksi QR di seluruh merchant dengan konsep beli sekarang dan bayar nanti dalam 1, 3, 6, 9 atau 12 bulan.

Rudi menjelaskan, Livin' Paylater ditujukan untuk Nasabah Individu yang memiliki rekening aktif di Bank Mandiri.

"Bentuknya seperti apa? Sebetulnya kita ini ga buat itu orang luar, jadi kita kasih kepada nasabah kita sendiri," ujarnya.

Sementara itu, terkait skema pembayaran Livin' Paylater hingga syarat yang layak menggunakan fitur tersebut masih dalam tahap pembahasan bersama regulator.

"Nanti ini lagi dibahas karena belum secara regulator. Jadi, belum terinfo ke kita mengenai syarat dan ketetuan ke arah paylaternya," pungkasnya.


Penyaluran Kredit

Ilustrasi Laporan Keuangan, Laba, Rugi. Foto: Freepik/mindandi
Ilustrasi Laporan Keuangan, Laba, Rugi. Foto: Freepik/mindandi

Sebelumnya diberitakan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) optimistis penyaluran kredit bisa tumbuh di atas 10-12 persen hingga akhir 2023. Ini mengingat, saat ini penyaluran kredit mengalami peningkatan yang positif.

"Kami ingin mencapai pertumbuhan kredit di range atas guidance kami di mana guidance kami 10-12 persen sekitar, saat ini kami sudah mencapai 12 persen lebih sedikit," kata Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo dalam Public Expose Live 2023 pada Senin (27/11/2023).

Dia bilang, pertumbuhan tersebut merata, baik di segmen wholesale maupun retail. Dalam melakukan ekspansi kredit, tentunya Bank Mandiri akan selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dengan mengarahkan pertumbuhan kreditnya kepada sektor-sektor yang tergolong prospektif maupun risilien sesuai Loan Portfolio Guideline (LPG) yang ditinjau secara periodik.

Selain itu, ia melanjutkan, target net interest margin (NIM) pada tahun ini sekitar 5,3-5,6 persen. Alhasil, Bank Mandiri juga ingin mencapai batas range atas guidance. 

"Dan guidance cost of credit di September lalu kami revisi yang awalnya 1,3-1,5 menjadi di bawah 1,1 persen. Ini juga bagian yang sudah kami lakukan tentu harapannya perbaikan-perbaikan guidance menjadi bagian yang penting untuk memastikan bahwa kinerja yang baik dapat terus dipertahankan sampai akhir tahun dan tahun-tahun ke depannya," kata dia. 

 


Pertumbuhan Laba

Ilustrasi Laporan Keuangan atau Laba Rugi. Foto: Freepik/ pch.vector
Ilustrasi Laporan Keuangan atau Laba Rugi. Foto: Freepik/ pch.vector

Hingga September 2023, Bank Mandiri sudah mencatatkan kinerja yang positif dengan laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp 39,1 triliun. Realisasi ini lebih baik dari yang ditargetkan pada awal tahun. 

"Namun kami tetap menjaga kinerja sampai akhir tahun," imbuhnya.

Sigit menyampaikan, pertumbuhan laba tersebut merupakan hasil dari strategi Bank Mandiri yang berfokus pada ekosistem baik dari sisi pembiayaan maupun pendanaan. 

Sementara itu dari sisi total dana pihak ketiga (DPK), secara konsolidasi Bank Mandiri mampu mencetak  pertumbuhan positif 6,6 persen YoY dari Rp 1.361,3 triliun di September 2022 menjadi Rp 1.451,7 triliun di akhir September 2023 yang ditopang oleh dana murah atau current account and saving account (CASA). Total dana murah Bank Mandiri yakni Tabungan dan Giro berhasil menembus Rp 1.070 triliun, naik sebesar 12,8 persen secara YoY.  

Hasilnya, rasio dana murah atau CASA Ratio Bank Mandiri praktis terkerek naik menjadi 73,73 persen secara konsolidasi dan 78,8 persen secara bank only di September 2023. Membaik bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masing-masing sebesar 69,73 persen secara konsolidasi dan 73,2 persen secara bank only. 

Infografis Bank Dunia Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Bakal Terjun Bebas. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Bank Dunia Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Bakal Terjun Bebas. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya