Liputan6.com, Uni Soviet - 51 tahun yang lalu, tepatnya pada 14 Februari 1974, pemerintah Soviet secara resmi menuduh penulis Rusia, Alexander Solzhenitsyn, dengan dakwaan pengkhianatan. Tudingan ini ditujukan sehari setelah mengusirnya dari negara tersebut.
Penulis yang kala itu berusia 55 tahun dideportasi ke Jerman Barat pada 13 Februari 1974 dan kehilangan kewarganegaraan Soviet. Dua hari sebelumnya, Solzhenitsyn ditangkap di apartemen istrinya di Moskow dan dibawa untuk diinterogasi oleh polisi rahasia Soviet, KGB.
Baca Juga
19 Februari 1807: Dituding Berkhianat, Mantan Wakil Presiden AS Aaron Burr Ditangkap di Alabama
18 Februari 2010: WikiLeaks Rilis Dokumen Pertama dari Chelsea Manning, Awal Mula Terungkapnya Rahasia Kelam Militer AS
17 Februari 2016: Ledakan Bom Mobil di Jantung Ibu Kota Turki Targetkan Anggota Militer, 28 Orang Tewas
Mengutip dari laporan BBC On This Day Jumat, (14/2/2025), disebutkan bahwa dakwaan terhadapnya berdasarkan Pasal 64 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Federasi Rusia. Dengan ancaman sanksi berupa hukuman mati melalui regu tembak atau minimal sepuluh tahun penjara dengan penyitaan harta benda.
Advertisement
Solzhenitsyn berada dalam penyelidikan selama enam minggu setelah novelnya, Gulag Archipelago, diterbitkan di negara-negara Barat. Buku tersebut menggambarkan kehidupan di kamp kerja paksa Soviet dan dianggap merusak citra negara.
Sebelumnya, ia telah menghabiskan sepuluh tahun di penjara pada era Stalin karena tulisan-tulisannya yang dianggap bertentangan dengan ideologi pemerintah.
Kantor berita resmi Soviet, Tass, dalam layanan berbahasa Inggris mengumumkan pada 14 Februari 1975: "Melalui keputusan Presidium Soviet Tertinggi Uni Soviet, A. I. Solzhenitsyn telah dicabut kewarganegaraannya karena secara sistematis melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan status sebagai warga negara Uni Soviet dan merugikan negara. Ia diusir dari Uni Soviet pada 13 Februari 1974."
Sejatinya Solzhenitsyn tiba di Bandara Frankfurt beberapa jam lebih lambat dari perkiraan. Sekitar 250 jurnalis telah menunggu kedatangannya di desa kecil Langenbroich, Jerman Barat, tempat ia menginap bersama Heinrich Böll, peraih Nobel Sastra 1972.
Dalam pernyataannya, Solzhenitsyn mengungkapkan bahwa pengusiran tersebut tidak ia duga. "Saya harus menenangkan diri dan mencoba memahami situasi," katanya kepada wartawan. Ia juga meminta agar dirinya tidak diganggu.
Sementara itu, istrinya, Nataly, beserta tiga anak mereka, diberi izin untuk menyusul Solzhenitsyn kapanpun mereka siap. Namun, belum ada keputusan apakah mereka akan menetap di Jerman secara permanen.
Seminggu setelah kedatangannya di Jerman, Solzhenitsyn melanjutkan perjalanan ke Lillehammer, Norwegia, melalui Swiss dan Denmark. Ia menetap di Swiss hingga 1976 sebelum akhirnya pindah ke Vermont, Amerika Serikat, bersama keluarganya.
Selain mengkritik pelanggaran hak asasi manusia di Uni Soviet, Solzhenitsyn juga melontarkan kritik terhadap sistem kapitalisme.
Adapun versi pertama Gulag Archipelago dalam bahasa Rusia baru diterbitkan pada 1989. Setelah Uni Soviet runtuh, tuduhan terhadapnya dicabut pada 1991, tetapi ia baru kembali ke tanah airnya pada 1994.
Meskipun tulisan-tulisan awalnya mendapat pengakuan luas, karya-karya Solzhenitsyn selanjutnya tidak mendapatkan sambutan serupa dari para kritikus.