Liputan6.com, New York - Strategi dari organisasi negara-negara pengekspor minyak dunia (OPEC) dengan terus memompa produksi minyak dan menjualnya langsung ke pasar meskipun harga minyak sedang jatuh sepertinya berhasil. Strategi tersebut telah membuat industri minyak di Amerika Serikat (AS) terpukul.
Mengutip CNN Money, Minggu (16/8/2015), Data yang dikeluarkan oleh International Energy Agency (IEA), lembaga independen yang berkonsentrasi di sektor energi, mengungkapkan bahwa produksi minyak dari negara-negara bukan anggota OPEC bakal menurun secara drastis pada tahun depan atau di 2016 nanti. Dalam laporan bulanan yang dipublikasikan oleh IEA, kontraksi tersebut adalah fase pertama sejak 2008.
IEA juga menjelaskan, industri energi di AS akan mengalami dampak yang paling parah, Oleh karena itu, produsen minyak di negara tersebut harus memikirkan kembali prioritas mereka dan mengurangi produksi.
"Sementara beberapa produsen mungkin berhasil meningkatkan produksi dalam jangka pendek, kami berharap mayoritas (produsen) akan berjuang untuk mempertahankan tingkat produksi yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama dikarenakan pengetatan anggaran (efisiensi)," kata laporan tersebut.
IEA memantau tren pasar energi bagi negara-negara terkaya di dunia.
Aktivitas pengeboran di AS sudah turun tajam sejak Oktober 2014. Kurang dari 59 persen sumur pengeboran (rig) yang beroperasi pada akhir Juli.
Pada perdagangan di akhir pekan kemarin, harga minyak AS light sweet untuk pengiriman September menetap di US$ 42,50 per barel, naik 27 sen. Harga minyak AS telah mencapai posisi US$ 42 setelah jatuh ke US$ 41,35 per barel, yang merupakan harga terendah sejak Maret 2009.
OPEC, yang kini beranggotakan 12 negara dipimpin oleh Arab Saudi, telah memulai pertempuran sengit atas pangsa pasarnya pada November 2014 lalu. OPEC menolak memangkas produksi di tengah tren penurunan harga minyak, berharap bukan untuk menampar para pesaingnya dengan biaya produksi yang lebih tinggi.
IEA mengatakan, harga minyak di bawah US $ 50 per barel memicu perusahaan minyak untuk memangkas produksinya.
Produksi minyak dari negara-negara non-OPEC diperkirakan bertambah 1,1 juta barel per hari menjadi rata 58,1 juta barel per hari pada 2015, dan menyusut 200 ribu barel per hari pada tahun 2016. Produksi minyak sempat mencatatkan rekor tertinggi sebanyak 2,4 juta barel per hari pada 2014.
Sementara itu, produksi OPEC mungkin meningkat pada tahun 2016. Iran ingin mengambil keuntungan dari hasil dari kesepakatan nuklir, dan meraih kembali gelarnya sebagai negara produsen minyak. (Ilh/Gdn)
Ini Pemenang Perang Minyak Dunia
OPEC tidak menurunkan produksi minyak meskipun harga minyak sedang anjlok menyebabkan industri minyak AS terpukul.
diperbarui 16 Agu 2015, 07:30 WIBDiterbitkan 16 Agu 2015, 07:30 WIB
Advertisement
Video Pilihan Hari Ini
Video Terkini
powered by
POPULER
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Berita Terbaru
Makkah dan Madinah Terendam, Ini Kisah Banjir di Zaman Nabi
DPR Harap Pemerintah Lobi Arab Saudi Izinkan Jemaah Haji di Atas 90 Tahun
Mengenal 4 Suku Tertua di Indonesia
ESA Akan Ciptakan Gerhana Matahari Buatan, Simak Tujuannya
Fakta-Fakta Banjir yang Melanda Makkah dan Madinah, Pertanda Apa?
3 Pemain Manchester United yang Rela Didepak Sir Jim Ratcliffe
Babak Baru Kasus Harun Masiku, Eks Ketua KPK Firli Bahuri Lindungi Hasto dan PDIP?
Fakta Unik Gunung Papandayan, Pendakian Penuh Tantangan
Batas Usia Pensiun Jadi 59 Tahun di 2025, Bagai Dua Sisi Mata Uang
Tanda Pria dengan Hati Tulus dan Cinta Sejati yang Tidak Hanya di Ucapkan
Kebiasaan yang Bisa Membantu Meningkatkan Kebahagiaan dan Mengurangi Stres
Mengenal Tanda Pria yang Mencintai dengan Tulus, Ini Cara Mudah Memastikannya