Liputan6.com, Jakarta - Musim bonus di wall street berlangsung hingga Maret, hal itu berdasarkan perkiraan yang dirilis pada Rabu pekan ini. Diperkirakan lebih dari 200.000 orang yang bekerja di perusahaan sekuritas yang berbasis di New York City akan mendapatkan keuntungan dari bonus.
Mengutip CNN, ditulis Sabtu, (29/3/2025), total bonus karyawan mencapai USD 47,5 miliar atau sekitar Rp 787,98 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.589). Hal itu berdasarkan the New York State Comptroller Thomas P.DiNapoli.
Baca Juga
Rata-rata bonus yang dibayarkan kepada karyawan juga mencapai rekor tertinggi yakni USD 244.700 atau sekitar Rp 4,05 miliar, naik 31,5 persen dari tahun sebelumnya.
Advertisement
DiNapoli menuturkan, pembayaran bonus besar ini ikuti lonjakan laba wall street sebesar 90 persen tahun lalu. "Rekor tertinggi bonus ini mencerminkan kinerja wall street yang sangat kuat pada 2024. Kekuatan pasar keuangan ini merupakan kabar baik bagi ekonomi New York dan posisi fiskal kita yang bergantung pada pendapatan pajak yang dihasilkannya,” ujar dia.
Jika disesuaikan dengan inflasi, 2006 masih menjadi tahun terburuk. Tahun itu, total bonus mencapai USD 34,3 miliar, dan rata-rata bonus yang dibayarkan adalah USD 191.400. Jumlah itu akan bernilai lebih dari USD 307.000 pada 2025, menurut perhitungan inflasi dari Biro Statistik Tenaga Kerja.
Rekor atau tidak, rata-rata bonus wall street masih jauh lebih tinggi daripada pendapatan rata-rata rumah tangga AS. Tahun ini, bonus itu tiga kali lebih tinggi dari rata-rata pendapatan rumah tangga sebesar USD 80.610 yang dilaporkan oleh Sensus AS pada 2023.
Perkiraan DiNapoli didasarkan pada tren pemotongan pajak atas bonus tunai yang dibayarkan untuk pekerjaan yang dilakukan pada 2024 ditambah bonus yang ditangguhkan dari tahun-tahun sebelumnya yang dicairkan tahun lalu. Namun, bonus itu tidak mencakup opsi saham atau bentuk kompensasi tertunda lainnya yang mungkin telah diterima karyawan yang belum dipotong pajaknya.
New York Makmur Berkat Wall Street?
Meskipun jumlah karyawan di industri sekuritas yang bekerja di New York City lebih sedikit daripada sebelumnya, mereka sekarang mencapai 18% dari keseluruhan industri, turun dari 33% pada 1990.
Akan tetapi, jumlah tersebut masih merupakan jumlah terbesar untuk satu negara bagian, menurut data dari kantor DiNapoli. Karyawan tersebut merupakan kontributor besar bagi ekonomi negara bagian dan lokal, dengan perkiraan satu dari 11 pekerjaan di kota tersebut secara langsung atau tidak langsung terkait dengan industri sekuritas.
DiNapoli mencatat Wall Street menyumbang 19% pajak yang dikumpulkan oleh Negara Bagian New York dan 7% pajak yang dibayarkan ke Kota New York. Dibandingkan dengan pengumpulan pajak tahun sebelumnya, bonus tahun ini saja diperkirakan menghasilkan tambahan pendapatan negara bagian sebesar USD 600 juta dan pendapatan kota sebesar USD 275 juta.
Ia juga mencatat Wall Street menyumbang hampir 18% dari keseluruhan aktivitas ekonomi kota, dan memiliki salah satu tingkat pengembalian ke kantor tertinggi dari semua sektor di New York.
Advertisement
Prediksi 2025
Keuntungan besar pada 2024. Namun, bagaimana dengan tahun ini?
Melihat ke depan, DiNapoli mencatat, "meningkatnya ketidakpastian dalam ekonomi di tengah perubahan kebijakan federal yang signifikan dapat meredam prospek untuk sebagian industri sekuritas pada 2025."
DiNapoli tidak menyebutkan perubahan kebijakan mana yang dirujuknya. Namun, penerapan tarif kontroversial Presiden Donald Trump yang kacau balau, ditambah dengan perubahan hubungan AS dengan sekutunya, di antara berbagai langkah yang mengejutkan lainnya, telah membuat dunia bisnis dan investor tidak jelas bagaimana cara melanjutkannya, dan telah mendorong kepercayaan konsumen terhadap perekonomian ke level terendah sejak Januari 2021.
