Liputan6.com, Cilacap - Sebenarnya bagi manusia hanya ada dua pilihan sewaktu hidup di dunia yakni menjadi orang baik dan buruk.
Dua pilihan ini memililki konsekuensi berbeda di akhirat kelak. Menjadi orang baik akan mendapatkan balasan kebaikan, demikian juga sebaliknya.
Advertisement
Bahkan, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menyarankan agar kita meniru perilaku orang baik di dalam Al-Qur’an.
Advertisement
Baca Juga
Gus Baha mengatakan hal ini bukan tanpa alasan. Sebab di dalamnya terkandung hikmah yang besar dan sangat berpengaruh bagi kondisi jiwa kita.
Simak Video Pilihan Ini:
Alasannya
Gus Baha menyarankan agar mempelajari sifat orang baik sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an agar kita menirunya.
Gus Baha mencontohkan orang baik yang terdapat dalam Al-Qur'an seperti seorang waliyullah yang tidak pernah memiliki rasa takut dan sedih.
“Sifatnya orang baik yang di Quran itu kita pelajari lalu kita tiru misalnya sifatnya orang baik termasuk apa itu 'ala inna awliyaa Allahu la kaufun ‘alaihim walaa hum yahzanunn' (sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati?” terangnya dikutip dari tayangan YouTube Short @Republik_Santri, Selasa (25/02/2025).
“Ya tidak punya rasa takut, rasa gelisah itu harus kita tiru,” paparnya.
Dengan meniru tabiat waliyullah sebagaimana yang diterangkan Al-Qur'an, maka kita tidak akan merasa takut dan bersedih hati.
“Karena kalau kita punya rasa gelisah itu biasanya lama-lama enggak ridlo dengan qadla qadar, pokoknya harus ceria,” ujarnya.
“Saya sebagai manusia sering susah, tapi saya paksa susah itu saya hilangkan,” imbuhnya.
Advertisement
Cara agar Menjadi Orang Baik
Mengutip dompetdhuafa.org, berikut ini cara agar menjadi orang baik dalam Islam,
1. Istiqomah dalam Beribadah
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS: Az-Zariyat : 56)
Manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah dan tunduk kepada aturan-Nya. Muslim yang baik adalah mereka yang bisa melakukan ibadah dengan aman dan nyaman, tanpa ada ancaman yang menyertainya. Serta yang terpenting adalah Istiqomah.
Sayangnya, tidak semua negara di dunia ini mendukung kebebasan muslim untuk beribadah. Seperti menggunakan hijab, menutup aurat, melaksanakan shalat di waktu dan tempat yang tepat, dsb. Bahkan saudara-saudara kita di Palestina misalnya, mendapatkan ancaman, tembakan, rudal saat mereka harus melaksanakan shalat di masjid.
Bersyukurlah, jika hari ini kita mendapatkan kemerdekaan untuk beribadah dengan tenang dan nyaman.
2. Bersih dari Penyakit Hati
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain…(QS: Annisa : 32)
Menurut Rasulullah SAW, hati adalah raja. Jika baik hatinya baik pula perilaku dan amalan kita. Sebaliknya, jika raja dalam diri kita buruk, maka buruk pula akhlak kita.
Muslim yang siap untuk memberi manfaat adalah yang mampu membebaskan dirinya dari belenggu penyakit hati. Misalnya iri, dengki, sombong, dan merasa paling benar sendiri. Penyakit hati kadang tidak disadari dan diam-diam menggerogoti pahala kebaikan kita.
3. Yakin untuk Memilih Jalan Kebaikan
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS: Al-Isra: 7)
Kenikmatan yang harus kita syukuri sepanjang hidup adalah saat kita memiliki kebebasan untuk memilih jalan kebaikan. Kita bisa menentukan arah mana yang akan kita tuju untuk memperbanyak pahala dan amal baik kita selama hidup.
Saat kita tidak memiliki kebebasan untuk memilih jalan yang baik, maka saat itu kita harus berjuang untuk keluar dari belenggunya. Belenggu bisa berasal dari diri sendiri atau tantangan eksternal.
4. Terbebas dari Hutang dan Riba
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al Baqarah: 275).
Allah tidak melarang seorang muslim untuk berhutang, namun hutang bisa membuat hidup tidak tenang dan menjadi penuh dengan beban. Apalagi hutang yang kita sendiri sulit atau tidak mampu membayarnya. Lebih-lebih jika hutang disertai juga dengan riba.
Seorang muslim yang siap untuk jadi manfaat akan tenang hidupnya, penuh kesyukuran dan jauh dari perasaan gelisah atau terancam, jika merdeka dari hutang dan riba. Untuk itu jauhilah hutang yang kita tidak bisa membayarnya dan jangan dekati riba agar hidup kita tidak terlilit atau terhimpit.
Hiduplah dengan apa adanya, sesuai kemampuan, dan tidak berlebih-lebihan.
5. Kemampuan Secara Finansia
l“Orang-orang yang menafkahkan harta di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS: Al-Baqarah: 261)
Sering kali umat Islam salah kaprah soal finansial dan harta. Islam bukanlah agama yang mengajarkan kemiskinan, namun justru mengajarkan agar umatnya mandiri, berdaya, dan dapat berkontribusi besar untuk sosial.
Sebagai muslim, jika kita memiliki kemampuan maka berusahalah untuk merdeka secara finansial. Nantinya, kita bisa seperti para sahabat Nabi yang hidupnya tidak pernah takut kekurangan harta sehingga berapapun bahkan mayoritas hartanya bisa ia berikan untuk berzakat, sedekah, dan wakaf.
Penulis: Khazim Mahrur / Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul
