Liputan6.com, Jakarta Ekonom, sekaligus Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yuhistira mengingatkan bahwa pengenaan tarif impor baru oleh Amerika Serikat terhadap Indonesia berisiko menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar di masa mendatang.
“Jadi kalau Indonesia menjadi sasaran dari kebijakan proteksi Amerika dimana terjadi kenaikan tarif misalnya 10%, maka Indonesia akan kehilangan USD 2,6 miliar per tahunnya dari ekspor langsung ke Amerika Serikat,” kata Bhima kepada Liputan6.com di Jakarta, Jumat (21/3/2025).
Advertisement
Baca Juga
Karena itu, menurutnya, terdapat implikasi terhadap penurunan ekspor dan nantinya surplus perdagangan bisa menurun.
Advertisement
Dampak ke Industri Manufafktur
Bhima juga menyoroti sejumlah industri-industri manufaktur di dalam negeri yang berorientasi pada pasar ekspor ke Amerika. Jika terdapat tarif, ia tidak mengesampingkan kemungkinan adanya pergeseran lokasi manufaktur.
“Contohnya pakaian jadi, alas kaki, furniture, pabrik pulp and paper untuk kertas, tisu dan lain-lain itu itu yang orientasinya ke Amerika itu bisa memindahkan pabriknya atau relokasi ke negara yang tidak dikenakan tarif,” katanya.
“Salah satu negara yang punya perjanjian perdagangan bebas dengan Amerika adalah Vietnam. Hal itu membuat industri kita semakin tidak mampu bersaing dengan Vietnam karena harga jual di pasar Amerikanya jadi naik. Ini yang harus diantisipasi segera, sehingga Indonesia bisa langsung melakukan antisipasi mencari pasar alternatif atau penetrasi ke Amerika secara diplomasi untuk memastikan tidak menjadi target utama,” imbuh Bhima.
Ekspor Pertambangan Loyo
Seperti diketahui, Indonesia mencatat penurunan surplus neraca perdagangan pada Februari 2025 hingga USD 0,38 miliar.
Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira mengungkapkan bahwa penurunan surplus perdagangan Indonesia salah satunya didorong oleh kinerja ekspor perdagangan yang menurun.
“Terkait dengan masalah surplus perdagangan, ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan salah satunya karena kinerja ekspor sektor pertambangan yang menurun,” ungkap Bhima.
Bhima mengutip data resmi BPS yang menunjukkan bahwa ekspor batu bara Indonesia telah anjok 18,3% selama setahun terakhir.
“Kemudian untuk ekspor suku cadang kendaraan bermotor juga rendah, hanya tumbuh 6,9%. Namun masih bisa ditutup oleh ekspor sawit yang naik 71,5%. Jadi sektor dari sisi pertanian kehutanan itu masih berkontribusi terhadap kenaikan ekspor 52%,” paparnya.
Advertisement
Penetrasi Pasar ASEAN Perlu Dioptimalkan
Selain itu, Bhima juga melihat bahwa kinerja ekspor Indonesia menurun ke sejumlah negara.
“Yaitu ke Korea Selatan dan ke Jepang padahal mereka negara mitra dagang yang tradisional.
Kemudian ekspor ke Jerman, Eropa itu minus 19%. Kalau Jepang tadi minusnya 19,4%. Korea minus 12,8% year on year,” jelasnya.
Karena itu, menurutnya, Pemerintah perlu mengoptimalkan penetrasi pasar ke pasar negara tetangga di ASEAN.
“Prospek (ekspor) ke Asean masih cerah meski ada pelambatan ekonomi di kawasan,” imbuhnya.
Sebagai informasi, Indonesia pada Februari 2025 mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD 3,12 miliar Februari 2025, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS).
