Liputan6.com, Jakarta - Awan Oort dikenal sebagai batas luar tata surya kita. Tempat ini terletak sangat jauh di luar jangkauan matahari, jauh melampaui Sabuk Kuiper.
Para astronom menggunakan berbagai metode, seperti observasi teleskopik canggih, analisis data misi luar angkasa, dan simulasi komputer, untuk mempelajari awan ini dan penghuninya. Meskipun masih diselimuti misteri, Awan Oort diyakini sebagai gudang es kosmik yang menyimpan triliunan komet beku.
Para astronom meyakini Awan Oort membentang hingga 100.000 kali jarak Bumi ke Matahari. Meskipun para ilmuwan telah memperkirakan ukuran dan bentuknya, detail spesifik tentang struktur Awan Oort masih menjadi teka-teki.
Advertisement
Advertisement
Baca Juga
Sebuah penelitian baru yang dipublikasikan di The Astrophysical Journal mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan, yakni keberadaan struktur spiral yang terbentuk oleh gaya pasang surut gravitasi dari galaksi Bima Sakti.
Melansir laman Science Alert pada Rabu (26/02/2025), para ilmuwan melakukan simulasi menggunakan superkomputer Pleiades NASA dalam penelitian ini. Mereka mensimulasikan sejarah tata surya selama 4,6 miliar tahun, sejak matahari terbentuk dari awan gas dan debu.
Para peneliti menemukan bahwa Awan Oort bagian dalam tidak berbentuk seperti cakram toroidal biasa, tetapi lebih menyerupai spiral yang mirip dengan struktur galaksi Bima Sakti melalui simulasi ini. Struktur ini memiliki panjang sekitar 15.000 satuan astronomi dan kemiringan 30 derajat dari bidang tata surya.
Para peneliti menemukan bahwa struktur spiral ini muncul pada awal sejarah Tata Surya, dalam beberapa ratus juta tahun pertama setelah terbentuk. Struktur ini dipengaruhi oleh efek gravitasi dari galaksi Bima Sakti, yang perlahan-lahan membentuk spiral dalam Awan Oort bagian dalam.
Meskipun banyak bintang yang melewati Tata Surya selama miliaran tahun, struktur spiral ini tetap bertahan. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk ini tidak berasal dari gangguan eksternal tetapi lebih merupakan hasil dari interaksi gravitasi jangka panjang dengan galaksi kita sendiri.
Selain itu, simulasi ini juga menunjukkan bahwa struktur spiral ini mirip dengan bentuk galaksi Bima Sakti, yang memiliki lengan spiral yang melengkung. Hal ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana interaksi gravitasi dalam sistem skala besar bisa mempengaruhi objek yang lebih kecil seperti Awan Oort.
Temuan struktur spiral ini menantang pemahaman kita sebelumnya tentang bentuk Awan Oort dalam. Selain itu, simulasi menunjukkan bahwa struktur ini telah ada sejak awal sejarah Tata Surya dan tetap stabil hingga saat ini, meskipun ada gangguan gravitasi dari bintang lain.
Namun, mengamati spiral ini secara langsung sangat sulit karena jaraknya yang sangat jauh dan objek-objek di dalamnya sangat kecil serta redup. Meski begitu, temuan ini cocok dengan data yang ada, memberikan wawasan baru tentang evolusi Tata Surya.
Â
Awan Oort
Dikutip dari laman Space pada Rabu (26/02/2025), Awan Oort pertama kali disebut keberadaannya oleh dua orang astronomer Belanda dan Estonia, yakni Jan Oort dan Ernst Öpik pada 1950. Keduanya menyebut kalau di tata surya kita ini ada sebuah objek berbentuk cangkang bola es yang mengelilingi tata surya.
Objek yang disebutkan dalam teori mereka pun akhirnya diberi nama awan Öpik–Oort atau lebih sering disebut dengan awan Oort. Di awan Oort inilah, pengaruh gravitasi matahari berakhir.
Salah satu teori pembentukan awan Oort diduga berasal dari material komet-komet dari bagian luar bintang lain yang ditarik oleh gravitasi matahari. Teori lain menyebut kalau awan Oort merupakan sisa-sisa material dari pembentukan matahari dan planet-planet di tata surya kita.
Oleh karena jaraknya yang sangat jauh dari matahari, awan Oort memiliki suhu yang sangat dingin, yakni sekitar 5 derajat kelvin (-268,15 derajat celsius). Awan Oort sendiri terdiri atas dua bagian yang berbeda, yaitu wilayah luarnya yang berbentuk seperti bola dan bagian dalam dengan bentuk seperti cakram.
Para astronom belum dapat merinci apa yang ada di dalam Awan Oort. Akan tetapi, peneliti memperkirakan kalau setidaknya ada sekitar 2 triliun objek yang ada di sepanjang awan Oort.
Selain itu, peneliti juga memiliki beberapa spekulasi soal apa saja bentuk-bentuk objek yang ada di dalam awan ini. Hampir seluruh objek yang berasal dari awan Oort adalah komet-komet dengan periode orbit yang panjang hingga 200 tahun.
Komet-komet tersebut terbentuk dari gas yang membeku dan debu-debu angkasa. Biarpun begitu, pada 2022, peneliti menemukan sebuah objek berbahan dasar batuan yang datang dari arah awan Oort.
Temuan ini jelas menjadi misteri baru soal objek-objek yang berasal dari awan Oort. Sebab, awalnya peneliti menduga kalau seluruh objek yang berasal dari tempat ini akan muncul dalam bentuk es.
(Tifani)
Advertisement
