Gelombang Ketiga COVID-19, Korea Selatan Lapor 1.000 Kasus dalam Sehari

Korea Selatan mencatat kasus COVID-19 harian terbanyak ketika negara tersebut tengah memasuki gelombang ketiga.

oleh Benedikta Miranti T.V diperbarui 17 Des 2020, 16:35 WIB
Diterbitkan 17 Des 2020, 16:35 WIB
FOTO: Kasus COVID-19 di Korea Selatan Meningkat
Pekerja mendisinfeksi kafe di Goyang, Korea Selatan, Selasa (25/8/2020). Korea Selatan menutup sekolah dan beralih kembali ke pembelajaran jarak jauh setelah memasuki hari ke-12 peningkatan berturut-turut dalam kasus COVID-19. (AP Photo/Ahn Young-joon)

Liputan6.com, Seoul - Korea Selatan telah melaporkan lebih dari 1.000 infeksi COVID-19 baru untuk hari kedua berturut-turut, di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa virus menyebar di luar kendali di wilayah ibu kota yang lebih besar.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea pada Kamis (17/12/2020) mengatakan, jumlah kematian COVID-19 sekarang menjadi 634 setelah 22 pasien meninggal dalam 24 jam terakhir. Ini pun menjadi hari paling mematikan sejak munculnya pandemi. Demikian seperti dilaporkan oleh Channel News Asia.

Di antara 12.209 pasien aktif, 242 berada dalam kondisi serius atau kritis.

Hampir 800 dari 1.014 kasus baru dilaporkan dari daerah metropolitan Seoul yang padat penduduk, di mana pejabat kesehatan telah memberikan peringatan tentang kemungkinan kurangnya kapasitas rumah sakit. 

Hari Kamis ini menandai 40 hari berturut-turut munculnya lompatan kasus COVID-19 harian sebanyak tiga digit, yang membawa beban kasus nasional menjadi 46.453.

Saksikan Video Pilihan di Bawah ini:


Lonjakan Kasus COVID-19 di Korsel

Negara-Negara dengan Kasus Corona Terbesar di Dunia
Sepasang kekasih mengenakan masker saat bersepeda di sebuah taman di Seoul, Korea Selatan, 7 Maret 2020. Hingga Kamis (12/3/2020) pagi, jumlah kasus virus corona COVID-19 di Korea Selatan sebanyak 7.755 orang terinfeksi, 60 meninggal, dan 288 sembuh. (AP Photo/Ahn Young-joon)

Kebangkitan Virus Corona COVID-19 di Korea Selatan terjadi setelah berbulan-bulan setelah negara tersebut mengalami kelelahan pandemi, rasa puas diri dan upaya pemerintah untuk menghidupkan ekonomi kembali.

Para pejabat setempat sekarang sedang mempertimbangkan apakah akan menaikkan batasan jarak sosial ke tingkat maksimum, yang mungkin termasuk larangan pertemuan lebih dari 10 orang, menutup puluhan ribu bisnis yang dianggap tidak penting dan mengharuskan perusahaan untuk memiliki lebih banyak karyawan yang bekerja dari rumah.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Video Terkini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya