Liputan6.com, Jakarta - Perekonomian Thailand secara tidak terduga mengalami kontraksi pada kuartal keempat 2023.
Kontraksi pada ekonomi Thailand menambah tekanan untuk penurunan suku bunga, karena meningkatnya risiko bagi perekonomian yang didorong oleh pariwisata akibat tingginya utang rumah tangga dan perlambatan di China. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan resesi di dua negara ekonomi utama dunia, yakni Inggris dan Jepang.
Baca Juga
Mengutip Channel News Asia, Selasa (20/2/2024) produk domestik bruto (PDB) Thailand turun 0,6 persen pada kuartal Oktober hingga Desember 2024, berdasarkan penyesuaian musiman, kata badan perencanaan negara tersebut.
Advertisement
Pada periode yang sama di tahun sebelumnya, ekonomi Thailand tumbuh sebesar 1,7 persen, sedikit lebih cepat dari revisi pertumbuhan sebesar 1,4 persen pada kuartal ketiga namun lebih lambat dari perkiraan pertumbuhan sebesar 2,5 persen.
Melambatnya momentum ekonomi Thailand meningkatkan kemungkinan penurunan suku bunga pada tinjauan kebijakan bank sentral berikutnya pada 10 April mendatang, setelah bank sentral mempertahankan suku bunga tetap pada bulan ini di 2,50 persen, tertinggi dalam lebih dari satu dekade, berdasarkan hasil pemungutan suara yang terpisah.
Desakan Pemangkasan Suku Bunga
Kepala badan perencanaan Thailand, Danucha Pichayanan mengatakan pada konferensi pers kebijakan moneter harus mendukung perekonomian dan penurunan suku bunga yang cepat akan membantu.
Sebelumnya, Perdana Menteri Srettha Thavisin dan pemerintahannya telah berulang kali mendesak bank sentral untuk menurunkan suku bunga, dengan mengatakan bahwa hal tersebut merugikan konsumen dan dunia usaha dan perekonomian berada dalam krisis.
Namun, Bank of Thailand (BOT) mengatakan penurunan suku bunga tidak akan banyak membantu menghidupkan kembali perekonomian terbesar kedua di Asia Tenggara itu jika masalah struktural terus berlanjut.
Ekonomi Thailand Diproyeksi Tumbuh Kembali pada 2024
Untuk tahun 2024, badan perencanaan Thailand memperkirakan pertumbuhan negara itu akan terjadi antara 2,2 persen dan 3,2 persen, lebih rendah dari 2,7 persen hingga 3,7 persen yang diproyeksikan pada bulan November.
Ekspor pada tahun 2024 juga diperkirakan akan tumbuh sebesar 2,9 persen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, sementara inflasi umum diperkirakan sebesar 0,9 persen hingga 1,9 persen, dibandingkan dengan kisaran target bank sentral sebesar 1 persen hingga 3 persen.
Perekonomian tidak akan berkontraksi pada kuartal pertama tahun 2024 jika ekspor pulih, kata badan tersebut.
Advertisement
Inggris dan Jepang Resesi, Indonesia Siapkan Antisipasi
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyoroti terkait perekonomian Inggris dan Jepang yang masuk ke jurang resesi teknis pada kuartal terakhir 2023. Produk domestik bruto Jepang mengalami kontraksi 0,4 persen, dan produk domestik bruto negara Inggris menyusut 0,3 persen.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, mengatakan pelambatan ekonomi yang terjadi di negara-negara maju, seperti Jepang dan Inggris utamanya diakibatkan oleh masih tingginya tingkat inflasi dan melemahnya permintaan domestik, sehingga berakibat pada terkontraksinya pertumbuhan di negara tersebut.
"Pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi secara dua kuartal berturut-turut memberikan sinyal bahwa Jepang dan Inggris masuk ke dalam resesi secara teknikal. Namun demikian, masih terlalu dini menilai bahwa kedua negara akan memasuki resesi ekonomi yang sebenarnya," kata Susiwijono kepada Liputan6.com, Sabtu (17/2/2024).
Ia pun mencontohkan, menurut National Bureau of Economic Research (NBER), resesi secara luas dapat diartikan sebagai penurunan signifikan dalam aktivitas ekonomi yang tersebar di seluruh ekonomi, berlangsung lebih dari beberapa bulan, biasanya terlihat dalam PDB riil, pendapatan riil, lapangan kerja, produksi industri, dan penjualan grosir-eceran.
Â
Dampak ke Indonesia
Kendati begitu, dampak dari pelambatan pertumbuhan ekonomi negara-negara ini juga perlu diberikan perhatian khusus, utamanya Jepang.
Sebab Indonesia saat ini memiliki hubungan kerja sama yang baik dengan Jepang, seperti investasi dan ekspor-impor. Saat ini Jepang merupakan salah satu tujuan utama ekspor kita dengan komoditas utama ekspor batubara, komponen elektronik, nikel dan otomotif.
"Pemerintah akan terus menghitung bagaimana transmisi pelambatan ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia,' ujarnya.
Saat ini perekonomian Indonesia masih cukup solid dan resilien didukung data ekonomi makro yang terus membaik. Pertumbuhan ekonomi ditopang oleh permintaan domestik yang masih tumbuh dan dijaga dengan inflasi yang terkendali.
Advertisement