Liputan6.com, Jakarta Perdebatan klasik tentang mana yang lebih dulu ada—ayam atau telur—akhirnya mendapat titik terang berkat sains. Selama bertahun-tahun, pertanyaan telur atau ayam dahulu ini menjadi bahan diskusi yang membingungkan sekaligus menggelitik logika. Namun, temuan ilmiah terbaru memberi penjelasan yang cukup mengejutkan.
Pada tahun 2010, para peneliti dari Universitas Sheffield dan Universitas Warwick di Inggris menemukan sebuah petunjuk penting.
Baca Juga
Mereka mengidentifikasi protein bernama ovocleidin-17 atau OC-17 yang memiliki peran krusial dalam pembentukan cangkang telur. Menariknya, protein ini hanya ditemukan di ovarium ayam.
Advertisement
Penemuan ini sempat memicu kesimpulan bahwa ayam lebih dulu ada dibanding telur.
"Alasannya, jika protein OC-17 hanya diproduksi oleh ayam, maka logikanya ayam harus ada lebih dulu untuk menghasilkan telur. Tanpa protein ini, kulit telur tidak akan terbentuk sempurna, sehingga proses bertelur tidak mungkin terjadi," dikutip Liputan6.com dari laporan peneliti tersebut, Kamis (10/4/2025).
Teori Evolusi
Namun, di sisi lain, teori evolusi memberikan narasi berbeda. Ilmuwan evolusi berpendapat bahwa ayam pertama sebenarnya menetas dari telur yang diletakkan oleh spesies burung mirip ayam, yang dikenal sebagai proto-ayam.
Proto-ayam ini mengalami mutasi genetik dalam reproduksi, sehingga menghasilkan keturunan yang bisa secara biologis dikategorikan sebagai “ayam modern”.
Artinya, meskipun protein OC-17 menjelaskan proses pembentukan telur saat ini, sejarah panjang evolusi mendukung bahwa telur ada jauh sebelum ayam. Hewan bertelur sudah eksis sejak era reptil purba, jutaan tahun sebelum ayam pertama muncul.
Mana yang Benar?
Jadi, apakah ayam duluan atau telur? Jawabannya bergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Secara biologis modern, ayam dibutuhkan untuk memproduksi telur.
Namun secara evolusioner, telur jelas lebih dulu ada dan menjadi medium utama dalam proses kelahiran spesies baru, termasuk ayam.
Pada akhirnya, dalam kerangka ilmiah yang lebih luas, telur kemungkinan besar mendahului ayam. Meskipun peran ayam dalam pembentukan telur saat ini sangat penting, sejarah evolusi tetap menunjukkan bahwa telurlah yang menjadi awal dari segalanya.
Advertisement
Harga Telur Stabil
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan bahwa harga pangan di pasar tradisional terkendali menjelang Hari Raya Idul Fitri 2025. Saat ini kondisi pasokan sejumlah pangan stabil sehingga tidak mendongkrak harga.
Hal itu disampaikan Budi Santoso usai meninjau Pasar Senen, Jakarta Pusat pada Selasa (18 /3/2025).
Sejumlah harga-harga pangan yang terkendali ini mencakup daging ayam, daging sapi, hingga telur ayam dan minyak goreng.
“Harga daging ayam tadi Rp 35.000, dari acuannya Rp 40.000, jadi harganya normal ya di bawah harga acuan.Kemudian daging sapi juga di bawah harga acuan Rp 140.000, tadi harganya Rp 135.000,” ungkap Budi kepada media di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (18/3/2025).
Sementara itu, terjadi sedikit kenaikan pada harga beras medium.
“Tadi ada kenaikan sedikit, tetapi kan ada SPHB. SPHB kan ini untuk intervensi pasar yang harganya standar Rp 12.500 per kilo ya, jadi bisa kita atasi untuk harganya,” Budi merinci.
Sementara itu, harga telur ayam juga stabil di kisaran Rp 27.000 per kilo, dari harga acuan Rp 30.000. Adapun harga MinyaKita yang sesuai dengan HET sebesar Rp 15.700.
“Jadi harga terkendali, pasokan stabil. Kita jaga terus sampai lebaran ini. Tidak perlu khawatir ya Pemerintah akan selalu menjaga stabilisasi harga,” imbuhnya.
