Paus Fransiskus Ingin Kunjungi Korea Utara

Paus Fransiskus dikabarkan ingin berkunjung ke Korea Utara.

oleh Tommy K. Rony diperbarui 01 Nov 2021, 11:00 WIB
Diterbitkan 01 Nov 2021, 11:00 WIB
FOTO: Paus Fransiskus Pimpin Misa Malam Paskah Tanpa Jemaat
Paus Fransiskus (kiri) mengangkat Alkitab saat memimpin Misa Malam Paskah di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Sabtu (11/4/2020). Misa Minggu Paskah biasanya dihadiri sekitar seratus ribu orang, namun tahun ini akan diadakan dalam gereja dengan jemaat terbatas. (Remo Casilli/Pool Photo via AP)

Liputan6.com, Roma - Paus Fransiskus dikabarkan ingin berkunjung ke Korea Utara. Rencana ini masih terkait perdamaian di Semenanjung Korea.

Wacana kunjungan Paus Fransiskus diungkap oleh Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in. Presiden Moon dan Paus Fransiskus sempat bertemu di sela-sela KTT G20 di Roma, Italia.

Berdasarkan laporan Yonhap, Senin (1/11/2021), Presiden Moon optimistis kunjungan Paus Fransiskus akan memperkuat peluang perdamaian.

"Paus Fransiksus selalu berdoa untuk perdamaian Semenanjung Korea dan menyatakan niatnya untuk mengunjungi Korea Utara," ujar Presiden Moon melalui Facebook.

Presiden Moon pun percaya bahwa jalan menuju perdamaian di Semenanjung Korea akan kembali berjalan.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.


Dukungan di G20

Penampilan baru pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, lebih kurus dan disebut berwajah tirus (KCNA via AP)
Penampilan baru pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, lebih kurus dan disebut berwajah tirus (KCNA via AP)

Selain dukungan Paus Fransiskus, Presiden Moon berkata dukungan perdamaian di G20 juga muncul dari Presiden AS Joe Biden, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Angela Merkel.

Pada 2018, Presiden Moon sebetulnya telah menyampaikan undangan Kim Jong-un kepada Paus Fransiskus agar berkunjung. Namun, wacana itu gagal direalisasi karena hubungan AS-Korut sedang panas.

Korut adalah negara otoriter dan komunis. Mayoritas penduduknya tak mengikuti ajaran agama. Ini berbeda dari Korsel yang memiliki masyarakat Katolik dan Protestan.

Saat ini, Korut juga sedang mengalami masalah pangan.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Pilihan Hari Ini

Video Terkini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya