Liputan6.com, Jakarta - Musim pelaporan SPT Tahunan telah tiba. Data Kementerian Keuangan hingga Agustus 2024 menunjukkan, pemerintah telah mengumpulkan Rp 18,5 triliun dari 11.268 Wajib Pajak Orang Pribadi yang dikenakan tarif progresif hingga 35% untuk penghasilan kena pajak (PKP) lebih dari Rp 5 miliar.
Meskipun penerimaan pajak ini tergolong besar, ternyata kontribusi kelompok "crazy rich" Indonesia ini hanya sekitar 9,8% dari total PPh atau 1,54% dari total penerimaan pajak negara.
Advertisement
Baca Juga
Selain kontribusi yang terbilang kecil, sejak 2021 para crazy rich ini juga bisa terbebas dari pajak dividen dengan memanfaatkan program reinvestasi dividen selama 3 tahun. Di mana dividen yang diterima tidak ditarik sebagai pendapatan pribadi, melainkan dialokasikan kembali untuk investasi.
Advertisement
"Strategi reinvestasi dividen ala crazy rich nyatanya tidak hanya bermanfaat untuk menghindari pajak dividen yang umumnya dikenakan sebesar 10% bagi wajib pajak orang pribadi, tetapi juga berpotensi meningkatkan keuntungan jangka panjang seperti dengan ditaruh di reksa dana pasar uang selama 3 tahun sudah bisa mendapatkan keuntungan lebih dari 10%,” terang Head of IPOT Fund, Dody Mardiansyah, Selasa (25/2/2025).
Meskipun tampaknya kebijakan ini memberikan keuntungan bagi crazy rich, tujuan dari pemerintah bukan semata-mata untuk berpihak pada golongan tersebut. Pemerintah melalui kebijakan ini berupaya mendorong lebih banyak investasi dalam negeri, yang pada akhirnya akan memperkuat perekonomian Indonesia.
Faktanya, sejak diterapkannya peraturan ini, tren investasi nasional menunjukkan peningkatan yang sangat positif tercermin dari laporan per triwulan Perkembangan Realisasi 2020-Maret 2024 dari Kementerian Investasi (BPKM). Berdasarkan PMK 18/2021, pada dasarnya terdapat beberapa instrumen investasi yang dapat dipilih oleh wajib pajak untuk reinvestasi dividen.
Optimalkan Potensi Keuntungan
Instrumen tersebut termasuk produk pasar keuangan, antara lain reksa dana dan deposito serta instrumen non-pasar keuangan seperti properti dan logam mulia.
Selain itu, wajib pajak juga bisa memilih untuk membeli saham lainnya sebagai bentuk reinvestasi. Dengan memanfaatkan strategi reinvestasi dividen, siapa pun dapat mengoptimalkan potensi keuntungan, sambil turut berkontribusi positif terhadap perekonomian Indonesia.
"Ini bukan hanya pilihan cerdas untuk menghindari pajak dividen, tetapi juga sebagai langkah konkret mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan," kata Dody.
Namun, kondisi pasar yang sedang lesu, dengan salah satu indikator yang mencolok adalah penurunan signifikan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir.
"Pada kondisi ini, pilihan investasi untuk reinvestasi dividen sebaiknya pada instrumen investasi yang minim risiko dan tidak mudah terpengaruh volatilitas dan gejolak pasar dalam jangka pendek, seperti pada reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap," imbuh Dody.
Ia menambahkan para investor yang ingin memanfaatkan peluang ini tidak hanya dapat meningkatkan potensi kekayaan mereka dalam jangka panjang, tetapi juga berperan dalam memperkuat ekonomi Indonesia di tengah gejolak yang mengguncang pasar.
Advertisement
Maksimalkan Cuan, Begini Trik Optimalkan Dividen
Sebelumnya, dalam dunia investasi, dividen menjadi salah satu sumber pendapatan pasif yang banyak diandalkan oleh para investor. Namun, banyak yang belum memahami bagaimana cara mengoptimalkan dividen agar dapat terus berkembang dan meminimalkan beban pajak yang harus dibayar.
Perencana keuangan dan pendiri Finansialku, Melvin Mumpuni berbagi strategi reinvestasi dividen serta cara memanfaatkan kebijakan pajak agar lebih efisien. Menurut Melvin, dividen yang diterima investor sebaiknya tidak langsung dihabiskan, melainkan diinvestasikan kembali agar nilainya terus berkembang.
"Ketika kita menerima hasil dari investasi, sebaiknya hasil tersebut kita putar kembali agar terus bertumbuh,” kata Mevin dalam Webinar Trik Magic Bebas Pajak Dividen, Sabtu, 15 Februari 2025.
Selain itu, Melvin juga menyoroti pentingnya pemahaman tentang pajak dividen yang berlaku di Indonesia. Saat ini, pajak dividen untuk individu dikenakan tarif sebesar 10%.
Strategi Pajak 0% untuk Dividen
Melvin menjelaskan, bagi pemegang saham perusahaan yang menerima dividen dari PT pribadi yang belum terdaftar di bursa efek, ada kesempatan untuk mendapatkan pajak dividen sebesar 0%. Caranya adalah dengan menginvestasikan kembali dividen tersebut ke dalam instrumen investasi di Indonesia.
"Misalnya, jika kita memiliki PT dan mendapatkan dividen sebesar Rp100 juta, jika uang tersebut langsung digunakan untuk keperluan pribadi, maka akan dikenakan pajak 10%. Namun, jika dividen itu diinvestasikan kembali ke dalam instrumen tertentu, pajaknya bisa menjadi 0%," ujar dia.
7 Faktor Jadi Pertimbangan
Dividen tersebut bisa dialihkan pada instrumen lain untuk sementara waktu. Melvin memberikan panduan dalam memilih instrumen investasi, ada tujuh faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu:
1. Return (Keuntungan yang diharapkan)
2. Risk (Risiko yang mungkin terjadi)
3. Time Period (Jangka waktu investasi)
4. Liquidity (Kemudahan pencairan investasi)
5. Tax (Pajak yang dikenakan)
6. Legalitas (Keamanan dan regulasi investasi)
7. Unique Consideration (Preferensi khusus seperti syariah atau ESG – Environment, Social, and Governance)
Kondisi Pasar dan Strategi Parkir Dana Dalam situasi pasar saat ini, Melvin menyarankan agar investor yang belum yakin untuk masuk ke pasar saham bisa terlebih dahulu “memarkir” dana mereka di instrumen yang lebih stabil, seperti reksa dana pasar uang.
"Kalau kita belum yakin, parkir dulu di reksa dana pasar uang. Cari yang return-nya stabil di kisaran 3-5% per tahun, dengan standar deviasi rendah agar tidak fluktuatif,” katanya.
Untuk catatan saja, Melvin mengingatkan pelaporan pajak untuk individu dengan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) memiliki batas waktu hingga 31 Maret setiap tahunnya, sementara untuk korporasi hingga 30 April.
"Jika dividen sudah diterima tetapi belum diputuskan untuk diinvestasikan kembali, bisa ditempatkan dulu di instrumen sementara seperti reksa dana pasar uang. Ini membantu agar tetap memenuhi aturan pajak tanpa harus terburu-buru dalam mengambil keputusan investasi,” jelasnya.
Dengan pemahaman yang tepat, investor dan pemilik bisnis dapat mengoptimalkan keuntungan dari dividen mereka. Reinvestasi yang cerdas serta pemanfaatan kebijakan pajak yang tersedia dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan pertumbuhan kekayaan secara legal dan efisien.
"Yang penting bukan hanya mendapatkan dividen, tetapi bagaimana cara kita mengelolanya agar hasilnya lebih optimal,” pungkasnya.
Advertisement
